"Secara umum penyelenggaraan haji tahun ini berjalan dengan lancar, meskipun tentu kita tidak bisa menutup mata dan harus menjadi refleksi kejadian di Madinah yang majmuah wanprestasi dengan menempatkan sebagian jamaah kita di luar markaziyah," kata Menag Lukman Hakim Saifuddin dalam silaturahim dengan wartawan Media Center Haji di Jeddah, Kamis (9/10/2014).
Denda yang dibebankan kepada majmuah karena pelanggaran kontrak itu akan diberikan ke jamaah haji. Utamanya 17.000 jamaah haji yang ditempatkan jauh dari masjid Nabawi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait persoalan ini ke depan penyewaan hotel tak akan menggunakan majmuah. Namun menyewa pemondokan dengan pola seperti di Makkah. Menag lantas menyoroti adanya perusahaan katering yang memberikan makanan basi.
"Misalnya ada katering wanprestasi itu juga bagian evaluasi kita. Kemudian juga kesehatan, jamaah yang meninggal 138 ini memang lebih banyak dari yang lalu. Tahun ini lansia memang lebih banyak, karena lansia berisiko tinggi memang lebih besar. Karena memang kebijakannya sisa kuota yang digunakan untuk lansia," latanya.
Namun ke depan Menag ingin definisi istitoah (kemampuan) dipertegas. Agar jamaah yang naik haji tak hanya mampu secara finansial.
"Persyaratan kemampuan itu terkait kesehatan kemudian ada persyaratan tolok ukur yang sama sehingga ada kejelasan yang bisa berhaji itu yang kondisi kesehatannya seperti apa, selama ini memang tidak ada pegangan yang tegas. Ini juga cukup dilematis di satu sisi jamaah animonya besar sekali. Jadi ini bagian yang ke depan perlu dibenahi," kata Lukman.
Kemudian persoalan keterlambatan penerbangan masih terjadi. Ke depan Lukman tak ingin persoalan klasik ini terus terjadi.
"Selalu saja ada keterlambatan penerbangan tapiitu tidak bisa dihindari karena ada pemindaian x ray dari bagasi jamaah. Apalagi kalau ada yang membawa Zam Zam dan itu harus dikeluarkan dan itu akan sangat menyita waktu. Tapi keberangkatan yang dulu memerlukan waktu empat sampai lima jam sekarang 1,5 sampai 2 jam saja. Dengan e readers paspor sudah dibaca komputer, kemudian barcode sudah dipasang di embarkasi masing-masing. Itu snagat menghemat waktu jaamah berangkat di bandara sebelum bertolak ke Makkah," pungkasnya.
(van/fjp)











































