"Kalau di dunia ini, sebenarnya parlemen Indonesia, DPR RI itu sangat santun. Masih terbilang santun. Kenapa saya katakan, di sana pun ketika ada pencalonan begini ini sangat tough memperebutkan sebuah kedudukan di IPU ini. Bukan seperti yang kita bayangkan. Kemudian semuanya berjalan mulus. Tontonannya lebih menyeramkan daripada yang ditonton di sini. Kadang-kadang kursi juga melayang jadi bola," kata Nurhayati.
Jawaban Nurhayati itu merespons pertanyaan wartawan bahwa demokrasi seperti apa yang akan dibawanya ke sidang IPU, mengingat bahwa beberapa waktu lalu ada konfrontasi antara kelompok di DPR yang tidak sejalan dengan demokrasi Pancasila, yakni kebersamaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perempuan yang sempat diisukan ditawari Ketua MPR oleh Koalisi Merah Putih (KMP) ini menambahkan, bahwa kesantunan dan keramahan di parlemen Indonesia itu menjadi modal Indonesia untuk tampil memimpin di IPU.
"Jadi oleh karenanya Indonesia inilah, Indonesia saatnya memimpin dunia. Dengan dikenal kesantunannya, dikenal dengan keramahannya, dan dengan demokrasi kita diakui dunia," imbuhnya.
Bila ada dinamika politik, menurutnya, itu adalah proses demokrasi yang biasa saja. Demokrasi di Indonesia itu, lanjut dia, bukan mengimpor nilai-nilai dari luar, melainkan mengadopsi nilai lokal.
"Alhamdulillah, meski keras sekali, tapi itu disetujui oleh negara-negara maju. Jadi saya kira inilah saatnya Indonesia untuk memimpin dunia," tandas dia.
(nwk/mad)











































