Jarak pemondokan jamaah haji plus tersebut lebih dari 10 km dari Masjidil Haram. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana. 10 Jamaah berdesakan di dalam kamar berkasur 9 seluas 10x5 meter persegi. Hanya ada satu toilet di kamar mereka.
"Menurut saya harga Rp 110 juta tidak cocok dengan kondisi yang dialami jamaah haji. Dibandingkan jamaah reguler saja, itu masih nyaman jamaah haji reguler," kata Kabid Humas Kemenag Rosidin Karidi, yang memimpin investigasi Media Center Haji ke lokasi pemondokan, Rabu (8/10) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu mereka melaporkan hal ini ke Kantor PPIH. Mereka menuntut pertanggungjawaban perusahaan travel yang mengirim mereka.
Kabid Penyelenggara Ibadah Haji Khusus PPIH, Iwan Dartiwan, menuturkan temuan ini akan jadi dasar evaluasi. Karena ada standar PIHK yang diberikan izin operasi oleh Kemenag.
"Ini jadi catatan penting untuk evaluasi kami," katanya.
Para jamaah haji yang sempat transit di Turki dengan agenda City tour ini mestinya dapat banyak pengembalian uang. Karena di Turki juga tak ada City tour, selain minimnya fasilitas di Makkah.
"Semestinya ada refund-nya," katanya.
"Jadi kalau jamaah merasa dirugikan silakan mengambil langkah hukum," lanjutnya.
16 jamaah haji khusus tersebut diberangkatkan ke Tanah Suci oleh Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) Rihlah Alatas Wisata Tour and Travel.
Perusahaan yang terdaftar di PIHK resmi Kemenag tersebut memungut biaya Rp 110 juta dari jamaah plus tiket dari Palembang ke Jakarta Rp 2 juta dan Biaya Manasik Haji Rp 2,5 juta.
Jamaah memang sempat mendapatkan perlakuan manis waktu di Madinah yakni mendapatkan hotel dekat Masjid Nabawi. Demikian pula waktu awal datang ke Makkah sempat tinggal di Zam Zam Tower. Namun setelah itu mereka ditempatkan di lokasi yang tak nyaman sama sekali. Padahal sudah hampir sebulan ada di Arab Saudi.
Waktu wukuf maupun mabit di Mina, mereka tak mendapatkan tenda layaknya jamaah haji Khusus. ''Di Arafah kami tinggal di satu tenda yang isinya lebih dari 200 orang dan di dalam tenda sangat panas. Sepertinya di tenda haji reguler. Demikian pula waktu di Mina satu tenda berjubel isinya. Pada saat pulang dari Mina menggunakan satu bus yang isinya untuk dua bus dan saya tidak mendapat tempat duduk melainkan berdiri terus,'' ungkap salah seorang jamaah dengan nada kesal.
Kisahnya tak berhenti di situ. Saat pemberangkatan pun mereka ditelantarkan. 16 Jamaah tersebut sempat transit 12 jam di Turki. Janjinya akan ada wisata saat transit, tapi janji tinggal janji.
''Tapi kenyataannya selama 12 jam kami ditaruh di depan WC, makannya pun selama 12 jam hanya diberi sepotong ayam dan kentang. Kami mau beli sendiri tidak siap dengan uang Turki," keluh bapak-bapak dalam rombongan jamaah itu.
(van/mad)











































