Jeritan Jamaah Haji Khusus, Bayar Rp 110 Juta Tapi Ditelantarkan

Laporan dari Arab Saudi

Jeritan Jamaah Haji Khusus, Bayar Rp 110 Juta Tapi Ditelantarkan

- detikNews
Kamis, 09 Okt 2014 15:28 WIB
Jeritan Jamaah Haji Khusus, Bayar Rp 110 Juta Tapi Ditelantarkan
Jeddah -

Meski sudah membayar lebih dari Rp 100 juta, tak semua jamaah haji khusus bergelimpang fasilitas mewah. Tak sedikit jamaah ONH plus yang mendapat fasilitas seadanya saat berada di Tanah Suci.

Hal itu menimpa 16 orang jamaah haji khusus asal Palembang yang diberangkatkan ke Tanah Suci oleh Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) RA Wisata Tour and Travel.

‎Perusahaan yang terdaftar di PIHK resmi Kemenag tersebut memungut biaya Rp 110 juta dari jamaah plus tiket dari Palembang ke Jakarta Rp 2 juta dan Biaya Manasik Haji Rp 2,5 juta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gara-gara diperlakukan semena-mena, 16 jamaah haji khusus pun melaporkan perusahaan tersebut ke PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Daerah Kerja Makkah, Rabu (8/10) malam.

‎Betapa tidak, para jamaah sudah menjual kebun, mobil, bahkan tanah mereka agar bisa berhaji dengan nyaman. Tapi kondisinya sangat memprihatinkan, para jamaah haji tersebut tidur di tempat seperti penampungan, satu kamar untuk sepuluh orang . Bahkan ada yang dua ranjang untuk tiga orang nenek.

Saat dilakukan pengecekan oleh tim Media Center Haji, lokasi penampungan para haji plus ini berjarak delapan kilometer dari Masjidil Haram, ada tiga orang jamaah haji yang sakit dan dua diantaranya laki-laki yang berusia di atas 60 tahun. Sejak awal keberangkatan hingga mau pulang, tak ada dokter maupun perawat sama sekali yang mendampingi mereka. '

'Jangankan dokter atau perawat, obat batuk pun tidak disediakan. Bapak Ini sakit sudah sejak beberapa hari lalu , tapi tidak ada dokter yang memeriksa,'' kata salah seorang jamaah haji perempuan dari Palembang yang tak mau disebutkan namanya.

Usai wukuf para jamaah haji tersebut ditempatkan di suatu tempat seperti rumah penampungan . Sebanyak 16 jamaah haji tersebut tinggal di dua kamar yakni yang sepuluh orang di satu kamar dengan hanya sembilan tempat tidur dan kamar mandi hanya ada satu di luar kamar.

Sedangkan enam jamaah haji lainnnya ditempatkan di satu kamar dengan ruangan yang lebih kecil. "Waktu wukuf di Arafah dan mabit di Mina serta naik bus dari Mina ke sini, kami seperti bekasan (ikan teri yang sudah hancur dan dijadikan satu). Kami ini sudah membayar mahal tetapi tidak memuaskan," keluh jamaah lainnya.

Jamaah memang sempat mendapatkan perlakuan manis waktu di Madinah yakni mendapatkan hotel dekat Masjid Nabawi.‎ Demikian pula waktu awal datang ke Makkah sempat tinggal di Zam Zam Tower. Namun setelah itu mereka ditempatkan di lokasi yang tak nyaman sama sekali. Padahal sudah hampir sebulan ada di Arab Saudi.

Waktu wukuf maupun mabit di Mina, mereka tak mendapatkan tenda layaknya jamaah haji Khusus. ''Di Arafah kami tinggal di satu tenda yang isinya lebih dari 200 orang dan di dalam tenda sangat panas. Sepertinya di tenda haji reguler. Demikian pula waktu di Mina satu tenda berjubel isinya. Pada saat pulang dari Mina menggunakan satu bus yang isinya untuk dua bus dan saya tidak mendapat tempat duduk melainkan berdiri terus,'' ungkap salah seorang jamaah dengan nada kesal.

Kisahnya tak berhenti di situ. Saat pemberangkatan pun mereka ditelantarkan. 16 jamaah tersebut sempat transit 12 jam di Turki. Janjinya akan ada wisata saat transit, tapi janji tinggal janji.

''Tapi kenyataannya selama 12 jam kami ditaruh di depan WC, makannya pun selama 12 jam hanya diberi sepotong ayam dan kentang. Kami mau beli sendiri tidak siap dengan uang Turki," keluh bapak-bapak dalam rombongan jamaah itu.

Sanksi apa yang akan diberikan Kemenag kepada PIHK ini?

(van/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads