"Anda ini kalem sekali dalam menjawab, apa sih rahasianya?" tanya salah seorang panelis, Rhenald Kasali, di Ruang Graha Pengayoman Kemenkum HAM, Jl HR Rasuna Said, Jaksel, Kamis (9/10/2014).
"Memang apa adanya seperti itu tidak ada yang disembunyi dan tidak ada untungnya. Justru mudharat. Ini agak sulit menjawabnya, tapi kami punya 1 prinsip keyakinan bahwa apa yang ada pada kami ini plus minusnya adalah sesuatu yang otentik adanya," terang Busyro.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Busyro menceritakan, dia sempat mengalami kesulitan di tahun-tahun awal sebagai implikasi dengan manuver Nazaruddin lewat media. Di mana, dirinya sempat dituding menerima uang sebesar Rp 15 miliar.
"Dalam majalah terkemuka, saya dibilang menerima Rp 15 miliar. Kami dinasehati Pak Bibit, bentuk saja komite etik. Waktu itu saya memimpin rapat dan diposisikan jadi ketua, tapi saya mundur berdasarkan majalah yang memuat saya menerima Rp 15 miliar. Akhirnya, Pak Chandra yang jadi ketua dan alhamdulillah terbukti tidak benar," kisahnya.
Panelis juga menanyakan, apakah pimpinan KPK kerap mendapat ancaman terkait pekerjaannya selama ini. Busyro pun menjawab dengan mantap tidak pernah, baik terhadap pribadi maupun keluarga. Namun teror yang ditujukan kepada kantornya banyak.
"Selama ini alhamdulillah tidak kami tentukan. Kalau kepada individu, di kantor memang sering ada terorism dari klenik-klenik. Dipasang kembang dan seterusnya kalau sore ada saja," kata Busyro sambil tersenyum.
(aws/mok)










































