POR

Kolom

POR

- detikNews
Selasa, 11 Jan 2005 22:39 WIB
Den Haag - Kita bikin POR juga, yuk? Dananya dari mana? Lho, kan ada APBD. Apa argumennya kita tidak dikasih APBD dan apa istimewanya wartawan dikasih? Para tukang becak, pengangguran, tukang batu, tukang kayu, nelayan, sopir, guru, dosen, polisi, tentara, birokrat, dokter, insinyur, dukun, dan perutusan profesi lainnya menggelar rapat umum di alun-alun. Agendanya satu: rencana menggelar pekan olahraga sesuai profesi masing-masing seluruh Indonesia. Nama kerennya: tingkat nasional.Kliwon asal Tegal, mewakili tukang becak, maju, "Saudara-saudara, kita juga perlu mempunyai agenda nasional pekan olahraga. Kalau masyarakat tanya, kita ngeles saja: biar badan kita sehatlah. Soale kalau mbecak kan sehatnya egois. Cuman sehat awake dhewek. Kalau pekan olahraga kan jadi sehat bersama-sama secara nasional. Malulah kita sama wartawan. Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?""Won, Kliwon, kamu usul ngajak POR itu memangnya kamu siapa? Dananya nanti dari mana?" teriak Diman wakil nelayan, tanpa tahu sopan."Gampang: minta APBD! Wartawan bisa, kenapa kita tidak? Apa argumennya kita tidak dikasih APBD dan apa istimewanya wartawan dikasih? Kita juga bayar pajak dan retribusi. Apa bedanya kita dengan wartawan?" jawab Kliwon tangkas. Biarpun tukang becak, karena Kliwon pernah mengenyam kehidupan di Jakarta', dia jadi lancar cas, cis, cus. Suasana rapat umum langsung gaduh, riuh-rendah. Mas Harjo, guru dari Solo, berdiri menanggapi. "Nuwun sewu, lepas dari soal sumber pendanaan, apa ya pantas kita di-POR-kan? Wong, olahraga kita cuma sekedar sempat. Sesuatu yang ditekuni, penuh dedikasi, kemudian dilombakan, itu baru punya nilai. Seperti insan film bikin festival film, olahragawan bikin PON. Kita ini siapa? Apa manfaatnya? Menurut saya, ini sungguh absurd. Mainan warisan Orba ini seharusnya ditinjau ulang. Jangan kita malah ikut-ikutan," kata Harjo sambil ngapu rancang, kedua tangannya menutupi bagian depan celananya."Aja kaya kuwelah. Nanti kan kita di-tese-kan (training center). Biar kelihatan ada persiapan. Apa salahnya kita mematut-matut diri sebagai atlet?" sergah Kliwon."Apa tidak sebaiknya memperhatikan saudara-saudara kita korban Tsunami di Aceh? Itu kalau kita masih sehat rohani jasmani. Tunjukkan solidaritas dan empati, kepada para korban, para relawan dan wartawan yang bertugas di sana," timpa dokter Mer, yang tak bisa ikut ke Aceh karena sedang hamil tua."Aceh ya Aceh. POR ya POR. Saya mendukung Kliwon. Soal reaksi masyarakat, ndablek (cuek) sajalah. Kalau perlu kita meniru cara berkilah si Badrun di tivi bahwa POR sudah diagendakan. Sesuatu yang telah diagendakan tidak bisa dibatalkan oleh alasan apapun juga. Salah sendiri Tsunami datangnya belakangan," sela si Obet, sopir mikrolet."Siapa tuh si Badrun?" celetuk peserta rapat dari latar belakang. Rupanya orang tidak terlalu mengenal Badrun si Kampiun, juara Porwanas. Obet dengan susah payah menjelaskan, namun mereka tak mengerti juga. Tiba-tiba seorang berbadan tegap berdiri, "Ehem, saya kapten Ji'i. Tadi saya telah bisik-bisik dengan wakil profesi lainnya. Kesimpulannya, kami sepakat untuk mengagendakan POR sesuai profesi masing-masing. Ini soal persamaan hak warga negara. Yang tidak sepakat, itu dianggap sempalan, tidak mewakili siapa-siapa," Hadirin peserta rapat, utusan berbagai macam profesi, mendadak hening. Maklum, Ji'i yang tentara, ngomongnya lantang."Soal dana..." lanjut Ji'i lagi. "Nanti kita minta APBD Rp 6 miliar. Kalau tidak dikasih, berarti di negeri ini ada warga negara kelas satu dan warga negara kelas dua. Diskriminasi. Apartheid. Kalau POR-nya wartawan dibiayai APBD, maka POR kita pun harus bisa dibiayai. POR kita akan dimulai Maret nanti oleh kelompok profesi tukang becak. Ini sebagai penghargaan atas jasa Kliwon, yang jeli membuka wacana ini. Bulan berikutnya disusul POR para pengangguran, sopir, guru, dosen, dst... hingga bersiklus sekali dalam tiga tahun sampai ke profesi tukang becak lagi," kata Ji'i berapi-api.Di ujung rapat, Kliwon diminta maju ke depan, memberi sambutan penutup, "Ini amanat rapat. Biarpun bumi runtuh, agenda yang telah diputuskan ini harus tetap diwujudkan. Sing kana, pengkor paro-paro!" pekik Kliwon. Tak jelas apa makna kalimat terakhir Kliwon. Mungkin dia mau latah dengan semboyan olahraga, tapi malah jadi aneh dan menggelikan, seperti perilaku orang-orang itu. (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads