Pemerintah Fokuskan Pemulihan Psikis Guru-guru di Aceh
Selasa, 11 Jan 2005 16:14 WIB
Jakarta -
Pemerintah akan memfokuskan pelaksanaan kegiatan pendidikan di Aceh untuk satu bulan pertama ini pada pembinaan dan pemulihan kondisi psikis dan mental para pendidik. "Bukan hanya untuk murid-muridnya, tapi juga untuk guru-gurunya," ungkap Mendiknas Bambang Soedibyo usai bertemu Presiden SBY di Kantor Kepresidenan, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa, (11/1/2005).Berdasarkan data sementara yang dimilikinya, Bambang mengatakan, akibat bencana gempa dan tsunami tercatat 1.100 orang guru, 93 dosen dan 76 doktor di Aceh meninggal, dan ribuan lainnya masih dinyatakan hilang.Agar fokus pendidikan yang ditetapkan untuk satu bulan pertama ini bisa berjalan lancar, Depdiknas akan mengirim relawan-relawan tenaga pengajar ke tempat-tempat penampungan pengungsi. Relawan yang dikirim itu tidak sebatas guru, tapi juga dosen dan sekitar 500 mahasiswa UGM yang akan menjalankan program KKN."Jadi, tampaknya kita tidak terlalu sulit mencari relawan guru. Sudah sangat banyak yang mengajukan diri," katanya.Lebih jauh, Bambang menjelaskan, untuk mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar itu pihaknya akan menggunakan gedung-gedung sekolah yang masih utuh serta mendirikan sekolah-sekolah tenda di 95 titik penampungan pengungsi. Karena keterbatasan tempat, para siswa nantinya akan masuk secara bergiliran pagi dan sore hari.Menyinggung ketinggalan pelajaran yang dipastikan akan dialami murid-murid di Aceh dibanding daerah lainnya di Indonesia, khususnya yang terkait dengan ujian nasional nanti, Bambang mengatakan, pihaknya sedang memikirkan diterapkan mekanisme khusus sebagai solusinya.Alternatif yang akan diambil antara lain, mengadakan ujian persamaan atau sekalian menggelar ujian khusus yang hasilnya disetarakan dengan ujian nasional.Di tempat yang sama, Ketua Komnas Anak Seto Mulyadi mengatakan, dalam pertemuan presiden juga meminta agar dicanangkan hari nasional mengirim surat bagi anak-anak korban bencana di Aceh. Menurutnya, gerakan mengirim surat tersebut merupakan bagian dari upaya pemulihan kondisi psikologis dan penyembuhan trauma yang dalam bagi anak-anak korban gempa dan tsunami."Surat-surat tersebut secara tidak langsung akan memberikan efek bahwa mereka mendapat perhatian dan tetap disayangi oleh seluruh rakyat Indonesia. Mungkin memang kontribusinya tidak seberapa tapi bagi anak-anak dampak psikologisnya sangat luar biasa," kata dia.Teknis pelaksanaan kegiatan tersebut, menurut Seto, surat-surat yang ditujukan untuk anak-anak di Aceh dapat dialamatkan melalui kotak pos tertentu, dan jika memungkinkan tidak dikenakan biaya pengiriman sama sekali. "Presiden dan ibu akan mempelopori gerakan tersebut dalam waktu dekat," katanya.
(umi/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































