Aksi digelar di depan Royal Palace, Dam Square, Amsterdam, Minggu 5/10). Para WNI ini melakukan aksi damai selama satu jam. Rencananya aksi ini juga akan diselenggarakan di beberapa kota, termasuk di Perth, Canberra, Vancouver, Berlin, dan Sydney.
Tujuan aksi ini guna untuk memberi ruang kepada warga dunia menyampaikan solidaritasnya atas kemunduran demokrasi di Indonesia. Kegiatan ini juga ditujukan untuk mendukung aneka aksi nirkekerasan pro pilkada langsung, termasuk demonstrasi dan happening art yang dilakukan warga Indonesia.
"Aksi damai ini merupakan bentuk solidaritas teman-teman terhadap apa yang terjadi di tanah air. Walaupun cengkarut UU Pilkada ini masih berlangsung, kita ingin menunjukkan kepada warga dunia bahwa saat ini demokrasi di Indonesia sedang mengalami masalah," ujar Muhammad Fikri (28), koordinator aksi.
Meski SBY telah mengeluarkan Perppu yang mengembalikan proses pilkada langsung, para relawan yang tergabung dalam Kawan Demokrasi menilai bahwa persoalan belum tuntas. Masih ada kemungkinan DPR menolak Perppu tersebut.
Karenanya, penting bagi semua pihak terus mengamankan pilkada langsung. Kawan Demokrasi memilih mengkhususkan diri menggalang perhatian internasional. Alasan pertama adalah karena sudah banyak elemen di dalam dan luar negeri yang menggalang suara warga Indonesia. Alasan kedua didasarkan pada penilaian Kawan Demokrasi bahwa pemerintahan SBY, dan SBY sendiri, peduli pada reputasi Indonesia di mata dunia, termasuk sebagai negara demokrasi terbesar ketiga, negara mayoritas Muslim yang paling demokratis, negara yang demokrasinya telah terkonsolidasi, serta negara acuan atau model demokrasi.
Dengan mata dunia tertuju pada proses pembahasan Perppu di DPR, SBY akan punya insentif lebih tinggi memastikan dukungan Partai Demokrat terhadap pilkada langsung. Selain mengheningkan cipta, acara yang disiapkan kurang dari satu minggu ini diakhiri dengan pembagian bunga kepada orang-orang yang berada di sekitar Dam Square.
(ndr/mad)











































