Amin Arjoso: Rombak Total PDIP
Selasa, 11 Jan 2005 13:51 WIB
Jakarta - Menjelang Kongres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), awal Maret 2005 nanti, suhu politik mulai menghangat di intern partai berlambang banteng gemuk ini. Salah satu deklarator PDIP Amin Arjoso mendesak peserta Kongres Partai mencuatkan agenda untuk merombak total PDIP jika ingin menjadi partai besar."PDIP harus dirombak total jika ingin memenangkan Pemilu 2009 nanti. PDIP harus menjadi partai yang modern," ujar Amin Arjoso di kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Jalan Tambak, Jakarta Pusat, Senin (11/1/2005) sebagaimana siaran pers Balitbang PDIP pada detikcom.Modern yang dimaksud Amin adalah menjadikan PDIP sebagai partai terbuka dengan memberikan kesempatan kepada kader di luar partai untuk bergabung. Partai modern adalah partai yang anti feodalisme, anti kultus individu, anti sentral demokrasi dan tetap mempertahankan rohnya membela wong cilik."Partai harus menjadi partai modern tapi tetap menjunjung ideologi nasionalisme, Pancasilais, mempertahankan NKRI, mempertahankan UUD 45 secara murni," ujarnya.Menanggapi pernyataan Sekjen PDIP Sutjipto di depan ratusan pengurus cabang PDIP se-Jateng belum lama ini bahwa pemerintahan sekarang ini dicurigai akan ikut intervensi di arena kongres, Amin menilai statement itu sebagai manuver politik murahan."Pak Tjip itu sudah tidak punya komodite politik yang bisa dijual untuk menaikkan popularitasnya selain membual. Dia sudah gagal mengantar Ibu Mega sebagai presiden dan gagal duduk sebagai Ketua MPR. Dua kegagalan itu sudah cukup memberi kesempatan padanya untuk mengundurkan diri," tegas Amin.Kalau memang sudah gagal menjalankan tugas partai, lanjut Amin, Sutjipto harus bersikap jujur saja. "Jangan mencari kambing hitam dengan melontarkan pernyataan fitnah, bahwa pemerintah akan intervensi di kongres nanti melalui tokoh-tokoh PDIP, itu tidak benar," tandas politisi asal Jawa Timur ini.Amin membantah tudingan Sutjipto mengenai adanya pecah belah di tubuh PDIP. "Tidak ada itu dipecah belah. Adapun orang-orang oportunis yaitu orang-orang yang membuat PDIP pecah. Itu akan diselesaikan melalui kongres yang akan datang," kata Amin.Jadi, ada atau tidak ada unsur ekstern dalam perjalanan partai, lanjut Amin, yang penting menyelesaikan masalah partai harus melalui mekanisme internal dengan berpegang pada kedaulatan kongres.Politik UangAmin yang juga salah seorang anggota presidium Gerakan Pembersihan dan Penyelamatan PDIP pimpinan Kwik Kian Gie juga melontarkan sinyalemen munculnya praktek money politics di arena kongres partai berlambang banteng gemuk dalam lingkaran ini, pada bulan Maret 2005 mendatang.Dugaan Amin ini mencuat setelah dirinya banyak menerima laporan dan keluhan dari para pengurus anak ranting di Jawa Timur dan Jawa Tengah, tentang permainan politik uang (money politics) di ajang rapat kerja cabang khusus (rakercabsus) untuk memilih wakil yang akan berangkat ke kongres partai.Menurut Amin, dirinya memperoleh informasi setiap peserta rakercabsus diiming-imingi uang dengan jumlah tertentu, agar memilih elit partai tertentu. Iming-iming itu dengan dalih untuk biaya perjalanan peserta. Padahal mekanisme biaya perjalanan ke kongres, sebenarnya merupakan tanggung jawab peserta sendiri, bukan partai atau pengurus tertentu."Ada pengakuan dari beberapa pengurus PDIP di daerah yang dijanjikan uang oleh sekelompok oknum partai, dengan syarat memilih sponshornya, saya sarankan, terima saja uangnya, tapi cara-cara ini tidak akan menganggu perjuangan kami secara keseluruhan dan mereka perlu disingkirkan," ujar Amin.Amin kemudian mengingatkan, jika kabar itu benar, adanya politik uang di rakercabsus tidak menghalangi semangat dia dan rekan-rekannya di gerakan pembersihan partai yang dipimpin Kwik Kian Gie untuk tetap berjuang membersihkan PDIP dari pembusukan partai oleh oknum.
(nrl/)











































