"Iya, memang harus begitu (tenang) atuh. Kalau kami panik, nanti malah nggak kondusif," kata Popong saat berbincang dengan detikcom, Jumat (3/10/2014).
Menurut politisi Golkar ini, suasana tenang harus dijaga agar rapat tetap bisa berjalan lancar. Apabila seorang pemimpin terpancing emosinya, maka situasi bisa kacau.
"Kami harus tetap tenang, yang penting dalam suasana apa pun yang penting mampu me-manage emosi," tegasnya.
Ceu Popong memimpin rapat mulai dari sejak pagi ketika pelantikan DPR. Lalu, dia kembali memimpin paripurna pembahasan fraksi dan mencari pimpinan definitif. Rapat kedua itu berlangsung hingga dinihari, selama hampir 8 jam.
Menurut ibu empat anak ini, fisiknya tetap terjaga malam itu. Dia tak merasa ngantuk, lelah, apalagi drop saat memimpin sidang.
"Memang saya tidak ngantuk, tidak capek dan tidak lapar. Tapi itu karena mungkin pengaruh hands of God. Saya diberi amanah dan diberi kekuatan lebih saat memimpin. Selama tugas itu dilaksanakan penuh keikhlasan dan tidak suudzon, insya Allah diberi kekuatan," ceritanya.
"Kan punya Tuhan yang melindungi kami, kenapa harus takut. Tuhan tidak pernah tidur. Itulah keyakinan kami, keyakinan kami Tuhan pasti melihat. Kenapa harus takut?" sambung wanita asal Bandung, Jabar, ini.
Selama memimpin sidang, Popong memang tenang. Sesekali, dia juga kerap melempar canda atau berkomentar dengan bahasa Sunda. Meski begitu, ada sebagian peserta sidang yang menganggapnya diktator. Namun Ceu Popong tak mau ambil pusing.
(mad/nrl)











































