Saat itu, Megawati memerintahkan Komandan Paspampres Mayjen (Purn) Nono Sampono mencari tahu keberadaan 'Om Maulwi'. Kala itu, Maulwi satu-satunya pejabat tinggi Resimen Tjakrabirawa yang masih hidup.
Seperti dikutip detikcom pada buku 'Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Soekarno' karya Asvi Warman Adam dkk, Jumat (3/10/2014), utusan Nono, Doni Monardo (mantan Kepala Paspampres yang kini menjabat Danjen Kopasus) datang menemui Maulwi di kediamannya di bilangan Bendungan Hilir. Pertemuan itu dijadikan Doni sebagai ruang untuk mendapat keterangan sejarah Paspampres yang bermula dari Resimen Tjakrabirawa. Maulwi Saelan juga menjadikan pertemuan itu untuk mengkonfirmasi berita dan informasi mengenai resimennya yang dikatakan ikut dalam G 30/S.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini berdampak pada tak jelasnya posisi Tjakrabirawa sebagai pasukan pengaman presiden Soekarno dalam sejarah Paspampres. Hal ini dilihatnya dari situs resmi Paspampres www.paspampres.mil.id, yang saat itu belum ada penulisan secara gamblang tentang Tjakrabirawa.
"Kesatuan ini dilikuidasi berdasarkan surat perintah Menteri Panglima Angkatan Darat nomor Sprint/75/III/1966 karena proses perkembangan...," tulis www.paspampres.mil.id kala itu.
Maulwi menilai pembubaran Tjakrabirawa pada Maret 1966 sangat politis. Faksi AD di bawah Soeharto kala itu sangat berkepentingan untuk menghilangkan Tjakrabirawa sebagai salah satu langkah menumbangkan Soekarno. Keterlibatan unit kecil anggota Tjakrabirawa dalam peristiwa G 30/S dijadikan dalih untuk mengecap Tjakrabirawa berada di balik peristiwa itu.
Sebagai petinggi kelompok itu, ia tak sependapat dengan versi orde baru sehingga pada rombongan Paspampres ia menyatakan banyak kebohongan yang hadir pada sejarah -versi orde baru-.
"Jangankan satu resimen penuh (yang terlihat G 30/S), satu batalyon pun tak sampai. Yang ada hanya satu pleton. 30 orang," terangnya pada Doni.
Ia mengatakan pleton itu ada di bawah kepemimpinan Lettu Dul Arief. Ke 30 serdadu itu pun sudah ditindak tegas olehnya setelah tertangkap di Cirebon dalam kondisi kelaparan. Penangkapan ini dilakukan setelah ada laporan dari kantor CPM Cirebon.
Ia juga membantah versi sejarah Orde Baru yang menyatakan Batalyon Banteng Raiders di bawah Letkol Untung Sjamsuri (pemimpin G30/S) terlibat seluruhnya.
"Itu kan bukan Banteng Riders semuanya, hanya mungkin satu kompi Banteng Raiders. Nah dari 1 kompi itu hanya ada 1 pleton yang ikut," jelasnya.
Setelah itu pertemuan itu, disebut Maulwi, Tjakrabirawa tak lagi menjadi 'halaman hilang' sejarah Paspampres. Setiap acara hari jadi Paspampres pun ia diundang.
Selain itu, setiap pergantian Komandan Paspampres, komandan yang baru dilantik mengunjunginya untuk bersilaturahmi. Pertemuan-pertemuan itu dinilai Maulwi sebagai pengakuan korps Paspampres untuknya dan Tjakrabirawa yang selama Orde Baru justru tak diakui peran sejarahnya.
"Kami (Tjakrabirawa) diakui oleh Paspampres," tutup Maulwi.
(bil/ndr)











































