Kisah 4 September Saat Soekarno Terkena Stroke Ringan dan Letkol Untung

Kisah 4 September Saat Soekarno Terkena Stroke Ringan dan Letkol Untung

- detikNews
Jumat, 03 Okt 2014 10:30 WIB
Kisah 4 September Saat Soekarno Terkena Stroke Ringan dan Letkol Untung
Jakarta -

Bagaimana persiapan Gerakan 30 September hingga saat ini masih menjadi misteri. Banyak versi tentang gerakan yang dikait-kaitkan dengan tumbangnya Soekarno sebagai presiden. Apalagi kemudian beredar kabar Soekarno sebagai dalang peristiwa itu.

Seperti yang dikutip detikcom, Jumat (3/10/2014) dalam buku 'Maulwi Saelan Penjaga Terakhir ‎Soekarno' karya Asvi Warman Adam Dkk, salah satu buku yang dinilai Maulwi menyudutkan Soekarno yakni The Devious Dalang; Soekarno and So Called Untung Putsch. Eyewitness Report by Bambang S Widjanarko yang ditulis Antonie Dake pada 1974. Buku ini kemudian di Indonesiakan dengan Judul Soekarno File: Berkas-berkas Soekarno 1965-1967 dan terbit di tahun 2005.

Dijelaskan oleh Maulwi bahwa dalam buku itu berdasarkan keterangan mantan ajudan Presiden Bambang Widjanarko (saat diminta keterangan oleh Teperpu pada tahun 1970), pada tanggal 4 September 1965, ditulis kalau Soekarno memanggil Komandan Resmien Tjakrabirawa Brigadir Jenderal Sabur dan Komandan Batalyon Letkol Untun‎g ke Istana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

D‎ikatakan Bambang bahwa pertemuan itu terjadi di kamar tidur Bung Karno. Saat itu, Bung Karno bertanya pada Untung apakah ia bersedia menerima perintah yang akan mencakup tindakan terhadap jenderal yang tak loyal.

Saat itu Untung menyatakan kesediaannya. Dalam buku itu, Dake mengatakan bahwa usai pembicaraan, Presiden Soekarno menderita serangan stroke ringan. Hal ini mengacu pada pokok pembicaraan yang snagat penting bagi Soekarno dan membuat Soekarno terbawa emosi.

Akibatnya Soekarno kehilangan daya tahan dan terserang pendarahan otak yang mengakibatkan dia tak mampu berbicara dan susah bergerak.

Kisah di atas dibantah Maulwi. Posisinya sebagai Wakil Komandan Tjakrabirawa membuatnya selalu berada di dekat Soekarno. Menurutnya, pada 4 September tak ada pertemuan antara Soekarno dan Letkol Untung.

"Pagi itu di serambi belakang Istana Merdeka yang ada beberapa menteri termasuk R Soeharto, dokter pribadi‎ sedang berbincang-bincang dengan Soekarno. Tiba Tiba Soekarno merasa pusing, keseimbangan tubuhnya goyah dan tampak kesadarannya kabur," kata Maulwi.

Pertolongan pertama pun diberikan. Di kamar tidurnya, Soekarno muntah-muntah. Tim Dokter lalu berkumpul untuk mengupayakan kesembuhan Soekarno.

"Jadi tidak ada pertemuan Soekarno dengan Brigjen Sabur dan Letkol Untung," ucap Maulwi.

Kondisi sakit ini juga disampaikan Maulwi dalam laporan kesehatan yang diajukannya Maulwi‎ saat ia makin sulit mendapatkan obat untuk menyembuhkan penyakit Soekarno usai peristiwa G 30/S. Dalam laporan itu ditulis pada 4 September, Soekarno mendapatkan serangan spasme pada pembuluh darah otak namun bisa kembali pulih.

Soekarno memang diketahui memiliki masalah dengan kedua ginjalnya. Ia pernah menjalani Operasi di Vienna pada tahun 1964. Saat itu, dokter merekomendasikan agar Soekarno menjalani transplantasi ginjal namun karena merasa belum siap, operasi transplantasi itu direncanakan pada akhir tahun 1965. Namun, hingga wafat 21 Juni 1970, operasi transplantasi itu tak juga dilakukan.

Pasca Supersemar yakni pada awal 1967 kekuasaan Soeharto berawal, Maulwi dan sejumlah anggota Tjakrabirawa (pasukan pengawal Presiden Soekarno) dipenjarakan dan baru dibebaskan pada 1972. Setelah keluar dari penjara, Maulwi mengaku sempat menghubungi Bambang Widjanarko dan menuntut Bambang untuk mengoreksi ceritanya tentang keterlibatan Soekarno dalam peristiwa 1 Oktober 1965 (yang disebut Soekarno peristiwa Gestok 'Gerakan Satu Oktober'). Namun, hingga Bambang meninggal, hal itu tidak juga dilakukan.

(bil/ndr)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads