Mayarakat Palu Lakukan Ritual Persembahan Laut Tolak Tsunami
Senin, 10 Jan 2005 23:51 WIB
Palu - Malam ini sekitar 300 orang masyarakat adat asli Kaili dari Lembah Palu Sulawesi Tengah, menggelar ritual tolak bala di Pantai Teluk Palu. Ritual ini dilakukan untuk menolak bencana yang mungkin bisa terjadi di Sulteng.Masyarakat yang mengikuti ritual laut ini mengaku takut jika gempa bumi dan tsunami yang menerpa Aceh dan Sumut terjadi juga di Palu. Sulteng memang dikenal sebagai daerah rawan gempa dan tsunami.Acara yang dimulai sejak pukul 17.00 Wita, Senin (10/1/2005) ini merupakan ritual kedua. Sebelumnya, kemarin malam mereka melakukan ritual gunung dan mempersembahkan hasil bumi sebagai tanda syukur mereka kepada tuhan dan minta tuhan melindungi mereka dari bala bencana.Masyarakat palu merujuk pada gelombang tsunami yang pernah terjadi di Pantai Barat Sulteng tahun 1980-an. Kemudian gempa bumi dan tsunami di Toli-toli tahun 1990-an.Karena itu, mereka kemudian menggelar ruwatan tolak bala ini. Acara ini menarik perhatian masyarakat setempat. Sampai saat ini, massa masih menyanyikan lagu puji-pujian kepada tuhan dalam bahasa Kaili sambil menabuh gendang dan gong.Di dalam tenda juga terlihat sebuah perahu berukuran panjang tiga meter yang berisi hasil bumi berupa pisang, ubi kayu, jeruk dan juga ketupat. Menurut Talo, salah seorang peserta ritual, perahu itu sebagai persembahan kepada laut."Sekitar pukul 05.00 Wita subuh nanti, perahu itu akan dihanyutlan ke laut lepas," kata wanita paruh baya itu.Acara ini selain dijaga satu regu perintis Polresta Palu, juga dikawal sejumlah penjaga keamanan masyarakat adat berpakaian hitam-hitam dan ikat kepala putih. Rencananya mereka akan menabuh gendang dan bernyanyi hingga pukul 05.00 Wita besok.
(fab/)











































