Berdamai Demi Tanah Aceh

Kolom

Berdamai Demi Tanah Aceh

- detikNews
Senin, 10 Jan 2005 14:12 WIB
Jakarta - Hari Minggu (10/1/2005), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengeluarkan seruan bagi Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia mengimbau GAM agar kembali ke meja perundingan, meneken nota perdamaian dan kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Seruan tersebut tentu sangat berdasar sekali. Reaksi atas bencana tsunami yang melanda Aceh, mestinya mampu membuka mata saudara-saudara yang mungkin masih memiliki pendapat berbeda di Aceh, betapa tinggi rasa solidaritas sesama anak bangsa.Bayangkan, hampir seluruh kota di pelosok negeri ini bergeliat, berlomba memberikan bantuan untuk korban tsunami Aceh. Derai airmata juga turut dikucurkan. Belasan stasiun TV dan juga ratusan media massa membuka dompet peduli. Dibelikan obat/makanan atau dikirimkan tunai bagi rakyat Aceh.Sumbang tenaga rakyat Indonesia untuk Aceh juga tak sedikit. Ribuan sukarelawan datang atas kemauan sendiri ke Aceh. Lepas dari kejahilan orang-orang yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, yang jelas uluran tangan tulus telah diberikan bagi Aceh. Derita Aceh adalah derita bangsa.Ketika GAM mendeklarasikan pemisahan dirinya dari NKRI tanggal 4 Desember 1976, alasan utamanya ketika itu adalah perlakuan Jakarta yang dinilai tak adil terhadap rakyat Aceh. Mulai dari sektor pengelolaan sumber daya alam (SDA) hingga pengekangan hak berpolitik warga Aceh. Tak heran, GAM kerap menyebut penguasa Indonesia sebagai penjajah dari Tanah Jawa.Tapi masalalu adalah masalalu. Demokrasi Indonesia juga telah berubah ke arah lebih maju sejak tumbangnya rezim Orde Baru. Ketulusan yang diberikan rakyat Indonesia bahu-membahu menolong saudaranya di Aceh, selayaknya diapresiasikan, bahwa rakyat bangsa ini, sejak dari dahulu memandang Aceh adalah saudara. Bagian satu bangsa, satu tanah air.Benar kata SBY, momentum pasca gempa tsunami sangat tepat untuk bergandeng tangan. Yang dibutuhkan Aceh saat ini adalah membangun kembali bumi pertiwi yang hancur lebur karena tsunami. Membangun negeri Aceh, sekaligus merajut masa depan yang lebih baik. Biarlah lebih 10 ribu korban jiwa yang melayang (Data Dephan 2002) terkait gejolak GAM, baik itu korban GAM atau Daerah Operasi Militer (DOM) menjadi sejarah kelam dan pelajaran agar tak terjadi di kemudian hari. Memaafkan tanpa harus melupakan. Marilah kita bersama, menyalurkan tenaga yang masih tersisa, untuk bersama-sama, bahu-membahu, Aceh atau non-Aceh, membangun kembali masa depan Aceh. (diks/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads