Kemerdekaan Palestina, Abbas Harus Bisa Yakinkan Israel & AS

Kemerdekaan Palestina, Abbas Harus Bisa Yakinkan Israel & AS

- detikNews
Senin, 10 Jan 2005 11:28 WIB
Jakarta - Terpilihnya Mahmoud Abbas sebagai Presiden Palestina memunculkan harapan tercapainya perdamaian di Timur Tengah. Abbas harus bisa meyakinkan Israel dan Amerika Serikat untuk memberikan hak bangsa Palestina untuk merdeka.Demikian pandangan pengamat Timur Tengah Riza Sihbudi menanggapi hampir pastinya Mahmoud Abbas memenangi Pemilihan Presiden Palestina. Hasil resmi pemilu memang belum diumumkan tapi menurut exit poll Abbas menang mutlak atas lawan-lawannya.Riza Sihbudi, dalam perbincangan via telepon dengan detikcom, Senin (10/1/2005), menyatakan Abbas diharapkan bisa melanjutkan kembali proses perdamaian yang selama ini mandeg. Sebab ia tokoh yang bisa diterima Israel dan AS. "Masalahnya apakah dia bisa mendapatkan konsesi lebih banyak dibanding Arafat," ujarnya.Selain itu, tercapainya perdamaian ini sangat tergantung pada political will Israel dan AS. "Mereka punya bargaining positon lebih kuat. Figur Abbas tidak akan banyak berarti kalau Israel dan AS tidak punya political will untuk tercapainya perdamaian di Palestina."Arafat dianggap sebagai batu sandungan dalam proses perdamaian di Palestina, paling tidak selama tiga tahun terakhir ini. Ia dinilai tidak bisa mengendalkan kelompok garis keras. "Padahal munculnya kelompok militan Palestina itu tidak terlepas dari aksi kekerasan yang dilakukan Israel," tutur Sihbudi.Ketika ditanya apakah Abbas akan bisa mengendalikan kelompok garis keras, Sihbudi menyatakan itu tergantung bagaimana bargaining position Abbas terhadap Israel dan AS. "Kalau Abbas dianggap banyak mengalah sehingga konsesi kecil pasti akan mengecewakan kelompok garis keras."Menurut Sihbudi, Abbas harus bisa mendapatkan konsesi yang menjadi target utama Palestina, yaitu tercapainya kemerdekaan Palestina pada tahun 2005 ini sesuai road map atau peta jalan damai yang diprakarsai AS. "Abbas harus bisa membuat Israel menaati perjanjial sebelumnya, yakni perjanjian Oslo I, Oslo II, dan road map. Konkritnya Israel menarik mundur dari wilayah pendudukan," jelas peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini.Nah, kalau Abbas bisa meyakinkan Israel dan AS untuk memberikan konsesi-konsesi tersebut, maka tidak ada alasan lagi bagi kelompok garis Palestina untuk tidak patuh pada Abbas. "Tapi kalau dia lemah (pada Israel dan Palestina), dia akan mengalami kesulitan mengendalikan kelompok garis keras," ujar Sihbudi.Karena itu Sihbudi mengibaratkan posisi Abbas seperti roti sandwich. Di bawah dia mendapat tekanan dari kelompok garis keras Palestina, dari atas ditekan Israel dan AS. "Serba susah memang. Tapi ada harapan. Sebab dia dikenal sebagai diplomat berpengalaman. Kini Abbas akan diuji apakah dia bisa berbuat lebih dari Arafat bagi Palestina," demikian Riza Sihbudi. (gtp/)


Berita Terkait