Laporan dari New York

Indonesia Aktif dalam Pembahasan 3 Agenda Utama Sidang PBB

- detikNews
Kamis, 25 Sep 2014 15:02 WIB
New York - ‎Ada tiga agenda utama dalam sidang-sidang di Markas Perserikatan Bangsa Bang (PBB). Selama di New York, Amerika Serikat, Presiden SBY aktif dan selalu terlibat penuh dalam pembahasan tiga agenda itu.

Tiga agenda itu adalah perubahan iklim, pembahasan pembangunan Millenium Development Goals (MDGs) 2015, dan konflik di Timur Tengah, Ukraina, dan Afrika.

"Seperti yang Anda ketahui semua, selama saya di sini (New York), saya dan delegasi penuh dan aktif dalam tiga pembahasan utama tadi," kata Presiden SBY kepada wartawan seusai meninggalkan Markas Besar PBB menuju Hotel One UN, Rabu (24/9/2014).

Terkait dengan perubahan iklim, Presiden SBY sudah memberikan sikap Indonesia dalam KTT Summit 2014. "Yang mengemuka adalah dorongan agar ada kerjasama global yang semakin nyata untuk ditindaklanjuti dalam konferensi perubahan iklim di Peru dan dan Prancis tahun 2015," kata SBY.

Selain hadir di KTT Iklim, sebanyak 25 pemimpin dunia juga membahas perubahan iklim ini dalam acara makan malam. Presiden SBY juga aktif dalam pertemuan ini. Dalam pertemuan terbatas ini, pembahasan lebih mengerucut.

"Dalam pertemuan ini dibahas mengenai kesepakatan-kesepatan dalam KTT Perubahan Iklim di Bali dan partisipasi saya di Copenhagen, agar pertemuan di Peru dan Prancis berhasil," ujar dia.

Dalam penanganan perubahan iklim, bangsa-bangsa di dunia harus bertanggung jawab. "Indonesia sudah benar, kita sudah on the track. ‎Saya harap pemerintah mendatang tetap peduli dengan isu ini dan aktif bersama negara-negara lain dalam forum internasional," pesan SBY.

Mengenai agenda pembangunan MDGs pasca 2015‎, kata SBY, dibahas secara mendalam dalam sidang di PBB dan sidang Majelis Umum PBB. "Ini sangat menarik, semua sepakat agenda pembangunan pasca MDGs makin efektif dan berhasil. Perbedannya, kali ini ada klausul pembangunan tidak boleh merusak lingkungan. Ini yang disamakan sustainable developmen‎t," jelas Presiden SBY.

Presiden SBY menegaskan dirinya dan delegasi sangat aktif mendorong upaya-upaya pembangunan ekonomi berkelanjutan ini. Presiden SBY juga sudah menyampaikan dalam sidang apa saja langkah-langkah yang sudah dilakukan Indonesia.

Selain dua hal di atas, kata SBY, sidang Majelis Umum ke-69 PBB juga ‎memberikan perhatian besar situasi di Timur Tengah seperti konflik di Iraq dan Suriah, juga konflik di Ukraina, dan Afrika. "Ini mendapat perhatian besar para pemimpin dunia. Intinya segera dicari solusi untuk mengatasi konflik dan ancaman secara damai, karena perdamaian adalah ruh PBB," terang SBY.

Selama ini, lanjut SBY, Indonesia ‎berkontribusi terus-menerus dalam perdamaian dunia dan keamanan internasional. "Dalam menghadapi ekstremisme dan radikalisme, bagaimana caranya harus kita cegah. Karena dua masalah ini telah menimbulkan ketakutan dan ketidaktenteraman. Indonesia punya posisi dan pandangan tersendiri dan memilih jalan diplomasi dan damai," kata SBY.

Sidang Majelis Umum ke-69 PBB ini merupakan sidang terakhir yang diikuti SBY sebagai ‎presiden Indonesia. Dalam dua hari sidang di PBB, 23-24 September, Presiden SBY menghadiri banyak agenda dan melakukan pertemuan bilateral-bilateral.

Selain sidang di KTT Iklim dan General Assembly, Presiden SBY juga memimpin high level meeting of the Open Government Partnership (OGP). OGP merupakan suatu kemitraan yang mendorong agar pemerintah dapat lebih terbuka dalam tata kelola pemerintahannya. OGP di New York merupakan pertemuan pada level kepala negara dan pemerintahan, yang diadakan dalam rangka persiapan OGP Global Summit 2015.

Dengan selesainya pertemuan level kepala negara di PBB, Presiden ‎SBY akan meninggalkan New York, Kamis (25/9/2015) pagi waktu setempat menuju Washington, DC. Di Washington, SBY akan melakukan sejumlah kegiatan, salah satunya akan berbicara di George Washington University.

(asy/ndr)