Abbas Klaim Kemenangan, Sinyal Perdamaian di Palestina
Senin, 10 Jan 2005 09:35 WIB
Jakarta - Calon Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengklaim kemenangannya dalam pemilihan presiden yang berlangsung hari Minggu (9/1) waktu setempat. Kemenangan Abbas ini menimbulkan harapan baru untuk proses perdamaian dengan Israel.Dilaporkan kantor berita Reuters, Senin (10/1/2005), Abbas mengklaim kemenangannya setelah hasil exit polls menunjukkan ia memperoleh keunggulan mutlak atas lawan-lawannya. Ia meraih 65 persen suara, sementara pesaing terdekatnya Mustafa Bhargouti hanya meraih 19,7 persen dukungan. Menurut pejabat pemerintah Palestina, hasil resmi penghitungan suara diharapkan bisa diketahui hari Senin ini. Abbas akan diambil sumpahnya pada Rabu (12/1/2005) lusa.Dalam pengumuman kemenangannya Abbas menyatakan mendedikasikan kemenangannya ini bagi almarhum Yasser Arafat, tokoh yang selama satu dekade memimpin dan menjadi simbol Palestina. "Kami mendedikasikan kemenangan ini bagi arwah saudara kami, Yasser Arafat, dan bagi seluruh bangsa Palestina," katanyaLalu dilanjutkannya, "Kami juga mendidikasikan ini untuk semua martir dan mereka yang terluka, serta para tahanan yang berada di balik jeruji besi Israel. Seluruh tahanan itu merayakan kemenangan ini bersama denganmu, Arafat."Abbas menjanjikan untuk mengusahakan perdamaian dengan Israel. Ia juga menyatakan akan melawan korupsi yang tersebar luas dan mengefektifkan kekuasaan Palestina, warisan empat tahun pemerintahan Arafat yang penuh diwarnai kekerasan dan semrawutnya hukum.Sinyal PerubahanSinyal lain tentang perubahan di Timur Tengah, pemerintah baru Israel diharapkan segera mulai bekerja dengan misi untuk mengakhiri penduduk di Jalur Gaza, dan menggusur penghuni Yahudi untuk pertama kalinya dari kawasan di mana yang dikehendaki Palestina untuk dikuasasi kembali.Israel juga berjanji akan membebaskan lagi tahanan Palestina dan mengurangi pembatasan jika pemimpin baru Palestina bisa menghentikan tembakan roket Al Qassam yang mengancam permukiman Yahudi dan kota-kota Israel dekat Jalur Gaza.Tapi optimisme adanya era baru diplomasi ini masih rapuh karena kalangan militan Palestina menunjukan sikap menolak menyerahkan senjata. Sementara itu tak satu pun orang Palestina atau Israel yang terlihat mau berkompromi tentang isu-isu mendasar dalam konflik yang sudah berlangsung lama ini.
(gtp/)











































