Setelah dilantik jadi presiden pada Senin (20/10/2014), Jokowi akan tetap melaksanakan blusukan. Cuma areanya lebih luas yakni mencakup 34 provinsi di Indonesia. Sebelumnya hanya satu provinsi saja.
Dengan banyaknya tugas yang harus dilaksanakannya sebagai presiden, tidak mudah bagin Jokowi untuk intens melakukan itu seperti waktu masih menjadi gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi melakukan teleconference dengan masyarakat adat di Papua. Jokowi mengatakan, kegiatan teleconference merupakan cara blusukannya nanti untuk menjangkau daerah-daerah yang belum sempat dikunjungi.
Menurut Jokowi cara teleconference dianggap efektif untuk mendengarkan setiap problem yang terjadi di tengah masyarakat.
"Ini efektif. Nanti yang blusukan ya yang seperti ini, entah itu skype, teleconference. Jadi komunikasi seperti itu yang akan terus kita lakukan. Sehingga seluruh masyarakat merasa keluhannya didengar, problemnya didengar," ujar Jokowi di dalam ruang tamu Gubernur DKI di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2014).
Jokowi mengatakan, saat ini di Papua tengah berkumpul ribuan masyarakat adat. Mereka melakukan syukuran atas terpilihnya Jokowi sebagai Presiden RI.
Aqua yang menjadi anggota Tim Pakar Seleksi Menteri detikcom ini menambahkan, melihat dari kesibukan Jokowi yang pasti cukup padat, tidak memungkinkan baginya untuk setiap hari atau sebagian besar waktunya dipakai untuk blusukan. Sehingga dia harus menggunakan teknologi untuk tetap menyalurkan keinginannya tersebut.
"Blusukan yang selama ini dilakukan Pak Jokowi bagus terutama untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat. Lewat kegiatan itu beliau bisa mengetahui dan menyerap keinginan rakyat. Sehingga beliau akan meneruskan kebiasaan itu. Masalahnya sekarang adalah begitu luasnya wilayah Indonesia. Jadi sulit untuk menjangkau seluruhnya dalam waktu cepat. Alternatif yang dilakukan adalah blusukan dengan komunikasi jarak jauh menggunakan teknologi seperti teleconference dan skype," ujar kandidat doktor Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung ini.
Agar blusukan jarak jauh tersebut efektif dilakukan, Aqua yang sudah puluhan tahun mendalami komunikasi baik di pendidikan formal maupun informal, menyarankan kepada Jokowi agar menghindari melakukan komunikasi satu arah dan rekayasa. Maksudnya saat berkomunikasi, juga memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan unek-uneknya dan orang yang bicara ditunjuk secara ajak. Sehingga terkesan alamiah dan tidak direkayasa.
Ketika jaman Orde Baru, lanjut mantan wartawan Jawa Pos dan Bisnis Indonesia ini, banyak kegiatan teleconfrence yang direkayasa. Jadi sebelum bicara jarak jauh dengan presiden Soeharto waktu itu, lebih dulu dipilih orang-orang yang akan bicara dengan Pak Harto. Kemudian ada simulasi tanya-jawab dan mereka intens dilatih sebelum bicara dengan presiden. Sehingga terlihat komunikasinya kaku dan tidak cair.
"Belajar dari pengalaman itu, jangan sampai hal serupa terulang kembali di era Pak Jokowi. Berilah kebebasan kepada rakyat untuk menyampaikan pemikiran dan unek-uneknya kepada pemimpinnya yakni Pak Jokowi. Sehingga jadi tahu keinginan rakyat dan kemudian seoptimal mungkin mewujudkannya. Dengan begitu komunikasinya lebih hidup, cair, dan alamiah," ungkap Aqua.
Bagi masyarakat menurut Aqua yang terpenting bukanlah ketemu langsung atau hanya lewat suara dan wajah saat komunikasi dengan Jokowi. Paling penting Jokowi sebagai presiden mau mendengarkan curahan hati mereka dan secara serius membantu mencarikan jalan keluarnya. Kalau rakyat menyampaikan masalah, Jokowi dan stafnya harus sungguh2 memberikan solusi terbaik. Memberikan bukti kepada rakyat jauh lebih penting daripada hanya sekedar mendengarkan apalagi janji-janji yang tidak pernah ditepati.
Hal itu kata Aqua sangat penting sebab menyangkut kredibilitas sebagai presiden. Masyarakat pasti sangat senang jika unek-uneknya ditanggapi secara cepat dan postif. Jadi tidak hanya didengarkan tetapi ada solusinya.
Agar Jokowi mengetahui realita kondisi Indonesia secara keseluruhan, Aqua menyarankan blusukan jarak jauh ini tidak hanya dilakukan di kota-kota besar yang infrastrukturnya sudah bagus dan fasilitasnya relatif lengkap. Tapi perlu dilakukan di wilayah pedesaan atau pedalaman yang masih memerlukan bantuan pemerintah pusat membangunnya.
"Komunikasinya pasti terasa beda antara masyarakat yang tinggal di perkotaan dengan di pedesaan atau di pedalaman. Mereka yang jauh dari kota, biasanya saat berkomunikasi apa adanya dan ada kecenderungan yang kuat menyampaikan unek-unek pada pemimpinnya sebab kebiasaan itu dianggap langka. Sehingga mereka tidak mau melewatkan kesempatan emas tersebut," ujar Aqua.
Manfaat lain dari blusukan menggunakan teknologi tersebut adalah menghemat biaya baik transportasi, akomodasi, maupun lain-lain. Daerah tidak akan terbebani sehingga biaya yang semestinya dikeluarkan untuk menerima kunjungan presiden, bisa dialokasikan buat kebutuhan lain yang jauh lebih penting di antaranya peningkatan kesejahteraan rakyat.
Juga tidak membuat para pejabat di daerah menjadi sibuk mempersiapkan acaranya dan saat hari H-nya. Sehingga waktu mereka dapat digunakan untuk aktivitas yang lain terutama memberikan pelayanan ke masyarakat.
"Tidak kalah pentingnya adalah meringankan tugas pasukan pengamanan presiden (Paspampres) dan aparat keamanan lainnya. Mereka tidak perlu susah payah dan sibuk melakukan pengamanan terhadap kunjungan presiden. Apalagi sedikit banyak ada perasaan was-was dan khawatir terjadi apa-apa pada keselamatan diri Pak Jokowi sebab beliau sangat suka berinteraksi langsung dengan rakyat. Bahkan jika ada yang minta foto bersama, Pak Jokowi akan melayaninya dengan tersenyum ramah," ujar Aqua.
Terkait dengan pengamanan dirinya dan keluarganya oleh Paspampres, pengamat kepolisian dan militer ini menyarankan agar Jokowi memperhatikan dan mengikuti semua saran yang disampaikan Paspampres. Di antaranya yang perlu jadi perhatian Jokowi adalah agar perlahan-lahan mengurangi sentuhan fisik dengan banyak orang saat berada di lapangan.
Hal itu sangat penting dilakukan Jokowi, kata Aqua, sebab tidak semua orang di Indonesia mendukung dirinya menjadi presiden. Sehingga dikhawatirkan ada orang-orang atau sekelompok orang yang tidak suka dengannya, sewaktu-waktu bisa menyusup ke kerumunan orang di dekat Jokowi untuk mencelakakan dirinya.
"Jadi berbagai kemungkinan negatif yang dapat membahayakan Pak Jokowi dan keluarganya harus dieleminir. Untuk itu Pak Jokowi agar mengikuti semua saran Paspampres yang terkait dengan keselamatan dirinya dan keluarganya. Selama ini Paspampres sangat terlatih dalam tugas-tugasnya melaksanakan pengamanan VVIP terutama presiden dan keluarganya," ujar Aqua menutup komentarnya.
(bpn/mad)










































