Seluruh Warga Negara Asing (WNA) ini berjenis kelamin pria dan hampir sebagian besar berusia dewasa. Mereka umumnya datang dari berbagai profesi seperti pebisnis, mahasiswa serta profesi lainnya.
Tina, pegawai kantor Imigrasi di rumah karantina, mengatakan kedatangan mereka ke Manado tidak serentak, melainkan secara berkelompok dengan menggunakan pesawat dan kapal laut.
"Ada yang tiba beberapa hari lalu dan langsung menyerahkan diri ke sini (rumah karantina). Ada juga yang baru tiba," katanya saat disambangi sejumlah wartawan, Selasa (23/9/2014).
Lanjutnya, kedatangan mereka adalah tidak ingin bergabung dengan kelompok Islamic State of Iraq (ISIS) yang melakukan perekrutan secara paksa. "Alasannya, nyawa mereka terancam dan terpaksa keluar dari negaranya," terang Tina.
"Yang tertinggal dan tidak mau bergabung terpaksa dibunuh," tambahnya.
Hasil pengamatan detikcom, meski terbilang sebagai pencari suaka, identitas mereka terbilang lengkap dengan paspor yang disponsori salah satu perusahaan asing ternama. Mereka pun sudah mulai mengerti bahasa Indonesia dan Manado, karena sudah lama menetap.
Mereka juga tampak sudah mulai berbaur dengan masyarakat setempat setelah diberi kebebasan oleh pegawai rumah karantina, walau hanya sekedar pergi berbelanja ke warung terdekat.
(fjp/fjp)











































