Malaysia Izinkan Pesawat Bantuan Tsunami Mendarat
Minggu, 09 Jan 2005 17:27 WIB
Jakarta - Untuk mengatasi padatnya lalu lintas Bandara Polonia Medan dan Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, pemerintah Malaysia telah mengizinkan Bandara Langkawi digunakan untuk mendarat sementara pesawat pembawa bantuan logistik korban tsunami. Di bandara itu, pesawat dapat menunggu giliran mendarat di Bandara Polonia atau Bandara Sultan Iskandar Muda. Demikian disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam teleconference dengan Koordinator Lapangan Bakornas Alwi Shihab yang juga Menko Kesra di Istana Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Minggu (9/1/2005). Menurut SBY, dirinya telah mengadakan pembicaraan soal itu dengan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi melalui telepon, Sabtu (8/1/2005) malam. “Pembukaan Bandara Langkawi ini agar proses re-supply tetap berjalan dengan lancar,” ujarnya. SBY juga menginstruksikan kepada Panglima TNI Janderal Endriartono Sutarto untuk mengoptimalkan bandara di Meulaboh dan Sabang sebagai terminal pendistribusian bantuan ke daerah di sekitarnya. Tujuannya untuk mengurangi penumpukan di Polonia dan Sultan Iskandar Muda. Pemerintah, lanjut SBY, telah menugaskan bandara di Batam dan Palangkaraya untuk lokasi parkir dan pengisian BBM bagi pesawat pembawa logistik. Namun, karena padatnya lalu lintas udara, upaya tersebut belum mampu memecahkan masalah secara tuntas. Sejauh ini banyak pesawat pembawa logistik dari negara donor parkir di Singapura. Alwi Shihab dalam teleconference mengungkapkan kondisi Bandara Polonia dan Sultan Iskandar Muda penuh sesak akibat tingginya lalu lintas udara pesawat terbang atau helikopter yang membawa bantuan logistik. Keadaan itu diperparah dengan menumpuknya logistik yang belum terdistribusi di areal bandara.Akibat kepadatan lalu lintas bandara, kata Alwi, sebuah pesawat yang membawa bantuan tidak dapat mendarat di kedua bandara itu dan berputar kembali ke Belgia, negara yang mengirim bantuan itu. Alwi menambahkan sejumlah relawan udara sempat mengeluh karena kesulitan mendapatkan bahan bakar pesawat. Menurut Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, untuk sementara waktu prioritas pengisian BBM memang untuk helikopter karena mobilitasnya tinggi dalam mendistribusikan bantuan ke daerah terisolir. Untuk pengisian bahan bakar pesawat udara dialihkan ke Batam dan Palangkaraya. Penanganan Anak Presiden SBY menginstruksikan kepada para relawan untuk menggiatkan operasi penanganan anak yatim piatu korban bencana gempa dan tsunami di NAD dan Sumut. Anak yatim piatu itu harus diupayakan untuk dipertemukan sengan sanak saudaranya. “Undang psikiater, psikolog, dokter dan Komnas Anak untuk pemulihan trauma,” ujar SBY. Dikatakan SBY, dalam pembicaraan dengan Perdana Menteri (PM) Malaysia Abdullah Badawi disebutkan anggota OKI berkomitmen untuk memberi bantuan dalam penanganan anak yatim piatu korban bencana.
(rif/)











































