Wartawan Kampiun?

Kolom

Wartawan Kampiun?

- detikNews
Minggu, 09 Jan 2005 13:14 WIB
Den Haag - Plok, plok, plok... Badrun kampiun! Kampiun Olimpiade? Bukan. Waduh, banggakah kamu Drun jadi kampiun?Lha, kamu -maaf- bokongnya tepos gitu kok bisa jadi kampiun? Otot-otot kamu lembek dan lemas kayak tanah becek kok bisa menggondol medali emas? Kamu ini sebenarnya kampiun apa?O, Porwanas? Ini bukan ngenyek, mengejek, lho ya. Tapi kalau boleh tanya apa manfaatnya wartawan adu keunggulan fisik, Drun? Jangan tersinggung dulu, Drun. Filosofi kegiatan ini memang mengundang tanya. Untuk apa? Sejujurnya kapan kamu latihan? Bukankah waktumu sehari-hari tersita habis untuk mengejar berita dan berkutat dengan teks? Bahkan begadang hingga larut malam, kerja, kerja, dan kerja. Apa nggak risih menyandang gelar kampiun, gitu lho? Apa permainan ini nggak ngapusi (mengelabui) diri sendiri? Para androlog dan seksolog biasa menyebutnya onani. Memuas-muaskan diri sendiri dengan perasaan jantan. Kampiun, tapi semu. Kamu ini wartawan kan, bukan olahragawan? Kalau mau jadi olahragawan, ya jadilah olahragawan beneran, yang nafas dan hidupnya memang dari dan untuk olahraga yang ditekuninya. Wartawan kok berkampiun-kampiunan olahraga. Mestinya yang pas itu ya berlomba mengejar penghargaan Pullitzer atau Adam Malik dan sejenisnya. Coba renungkan Drun, apa ada Poridi untuk para dokter, Pordos untuk para dosen, Porkayu untuk para tukang kayu, dst. Ya karena mereka memang nggak mau jadi karikatur. Simpel saja: kapan latihannya? Untuk di-POR-kan mestinya kualitas top, kalau tidak ya hanya jadi por-poran. Risih, ah. Orang nanti malah memplesetkan menjadi Pekan Onani Ramai-ramai Wartawan Nasional.Lagipula, maaf ya Drun, saat kamu bertanding siapa yang peduli? Penontonnya siapa? Beberapa gelintir orang saja kan? Tribun bolong-bolong melompong. Kalah jauh dengan jumlah saudara-saudara kita di Aceh yang bergelimpangan menjadi mayat. Lebih dari 100.000 orang tewas, termasuk kolega wartawan di sana. Ribuan anak-anak kehilangan ayah-bunda, menjadi yatim, tak jelas masa depannya. Ribuan lainnya sengsara dan hidupnya kini tergantung pada bantuan dan derma sesama manusia.Banggakah kamu Drun, menjadi kampiun? Kamu berkampiun-kampiunan, sementara saudara-saudara dan kolegamu sedang didera musibah, di sebelahmu Drun, cuma di sebelahmu: Aceh. Banggakah kamu menjadi kampiun? (es/)



Berita Terkait