Di Yogyakarta, aksi penolakan digelar dengan mimbar bebas, pengumpulan tanda tangan dan musik. Penolakan RUU Pilkada ini disuarakan oleh kalangan aktivis LSM Institute for Research and Empeworment(IRE) di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Minggu (21/9/2014).
Ratusan warga pun berbondong-bondong untuk membubuhkan tanda tangannya, sebagai bentuk penolakan RUU Pilkada. Warga pun juga ikut berorasi menolak RUU Pilkada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Omong kosong dari argumen-argumen yang dilontarkan DPR untuk menggolkan RUU Pilkada. Pilihan langsung dianggap bukan dari budaya kita, padahal sebenarnya sudah punya demokrasi secara langsung. Dimana rakyat terlibat langsung untuk memilih pemimpinya," kata Titok di Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Peneliti IRE Ari Sujito, dalam orasinya menyatakan, memilih pemimpin secara langsung lebih bisa menjamin demokrasi lebih baik. Akan dikembalikanya ke Pilkada tidak langsung merupakan upaya dari DPR untuk melakukan sabotase, melakukan kudeta atas hak-hak konstitusional rakyat.
"Jika DPR tetap memaksakan untuk mensyahkan RUU Pilkada, maka hanya ada satu kata 'Lawan,' kata Ari saat berorasi.
Menurutnya, adalah tidak benar jika Pilkada langsung menyebabkan biaya tinggi dan konflik. Karena terjadinya konflik justru dibuat oleh elit-elit politik di partai.
Apabila akan melakukan koreksi terhadap Pilkada, harusnya bukan dengan mengambil hak rakyat dalam memilih. Tetapi haruslah dilakukan dengan memberikan pendidikan kepada rakyat.
(ndr/mad)










































