Polisi: Kelompok Massa yang Ribut di Pasar Tanah Tinggi Suka Meminta 'Japrem'

Polisi: Kelompok Massa yang Ribut di Pasar Tanah Tinggi Suka Meminta 'Japrem'

- detikNews
Minggu, 21 Sep 2014 16:46 WIB
Jakarta - Adanya dua kelompok massa yang menguasai Pasar Tanah Tinggi, Kota Tangerang, tidak hanya menimbulkan keresahan bagi warga, karena keduanya kerap bentrok. Sejumlah pedagang di pasar tersebut juga kerap diminta pungutan liar (pungli) atau 'jatah preman' dengan alih-alih sebagai uang keamanan.

"Ada indikasi mereka sering melakukan pungli terhadap pedagang pasar dan ini diakui oleh pihak manajemen dan juga pedagang pasar. Tetapi pedagang juga tidak bisa berbuat banyak karena sudah simbiosis mutualisme," jelas Kasat Reskrim Polres Tangerang AKBP Sutarmo, Minggu (21/9/2014).

Sutarmo mengungkapkan, kelompok Ambon dan Betawi sudah lama menduduki Pasar Tanah Tinggi. Sejak berdirinya pasar tersebut, kedua kelompok membagi kavling masing-masing mulai dari lapak parkir hingga lapak pedagang pasar yang menjadi lahan pungli mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Para pedagang setiap hari dimintai uang Rp 5 ribu oleh dua kelompok ini dengan alasan uang keamanan," ucapnya.

Sutarmo menjelaskan, kelompok Ambon sudah menguasai area parkir di pasar tersebut sejak pembangunan pasar. Kelompok Betawi yang merasa sebagai pribumi pun tidak mau kalah sehingga meminta jatah kepada pengelola pasar.

"Saat pembangunan sudah hampir selesai, kelompok Betawi mengklaim bahwa mereka sebagai masyarakat sekitar harus diberi kavling, kemudian oleh manajemen diberi porsi untuk keamanan," jelasnya.

Alih-alih memberikan situasi yang aman, kedua kelompok ini justru kerap bentrok. Permasalahan sering dipicu karena perebutan lahan parkir.

"Tepi ternyata dua kelompok keamanan ini tidak membuat kondisi aman, malah mereka sendiri yang ribut. Keributan bukan berasal dari luar, tapi dari dalam kelompok itu sendiri. Pemicunya sepele, ada kelompok Betawi yang menyeberang ke wilayah kelompok Ambon, kelompok Ambon tak terima langsung terjadi perkelahian," paparnya.

Selama satu bulan ini, Sutarmo menyebut, keributan sudah terjadi tiga kali dan penyebabnya hampir sama. Mengantisipasi hal itu, Kapolres Tangerang Kombes Pol Riad mengambil tindakan tegas.

"Kapolres meminta dan menginstruksikan dengan tegas pada pihak manajemen agar semua kelompok keamanan dihapus. Keamanan hanya dari satu pintu yang dilakukan oleh manajemen yaitu oleh satpam manajemen dengan back up dari Polri," tambahnya.

Sutarmo menyebut, selama ini manajemen pasar juga tidak bisa mengambil langkah tegas kepada dua kelompok massa itu dan terkesan membiarkan kelompok massa tersebut menguasai pasar.

"Manajemen seakan melakukan pembiaraan dengan alasan pihak Ambon sudah berjasa mengamankan dari semenjak pasar tersebut berdiri sedangkan manajemen juga merasa harus memenuhi peran untuk memenuhi sekian persen dari pendapatan perusahaan mereka bagi masyarakat sekitar (kelompok Betawi)," pungkasnya.



(mei/mad)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini