"Pasca terjadinya bentrokan antara dua kelompok tersebut, pihak Polres Tangerang melakukan koordinasi dengan pihak pengelola pasar (pihak manajemen) dan akhirnya dicapai kesepatakan bahwa untuk keamanan pasar tersebut yang dibolehkan hanya satpam. Tidak ada lagi kelompok-kelompok berdasarkan etnis, atau kelompok berdasarkan tempat tinggal yang tadi sebelumnya ada kelompok Ambon, kelompok Betawi, yang menjadi keamanan pasar," jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto, Jumat (19/9/2014).
"Satu pintu saja yaitu unsur satuan pengamanan (satpam)," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rikwanto mengungkapkan, area parkir dan pengamanan yang dilakukan oleh dua kelompok massa ini kerap menjadi pemicu terjadinya bentrokan selama ini. Dalam satu bulan ini saja, Polres Tangerang mencatat sudah terjadi 3 kali bentrokan yang memakan korban jiwa.
"Pemicunya yaitu banyaknya kelompok tenaga pengamanan ini, karena di satu sisi mereka mengamankan tapi di sisi lain juga melebarkan sayap untuk mencari pendapatan melalui parkir. Kedua kelompok tersebut sudah lama ada di sana dan sepak terjang mereka meresahkan pengunjung serta pedagang pasar," paparnya.
Bentrokan terakhir, Senin (15/9) lalu, bentrokan antara kelompok Ambon dan Betawi menimbulkan korban. Satu orang dari kelompok Betawi tewas ditambah 1 lainnya luka bacok. Sementara dari kelompok Ambon tercatat satu orang luka bacok dan masih dalam perawatan di rumah sakit.
Dalam peristiwa tersebut, aparat polisi setempat mengamankan 8 orang. Dari 8 orang itu, 4 orang di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka.
"Penyidik Polres Tangerang sampai saat ini masih menyelidiki terus kasus tersebut," pungkasnya.
(mei/fjp)











































