Penipu Berkedok Tsunami Tertangkap di Yogyakarta
Sabtu, 08 Jan 2005 00:20 WIB
Yogyakarta -
Penipu dengan berkedok meminta bantuan atau sumbangan dana untuk korban bencana tsunami Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) tertangkap di Yogyakarta. Salah satu pelakunya adalah Basyirun (29) warga Dusun Ngaglik Desa Ngargosoko Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang.Tersangka pemuda pengangguran lulusan SD itu tertangkap anggota Polsek Jetis Kota Yogyakarta ketika sedang beraksi meminta sumbangan di simpang empat Pingit Kecamatan Jetis.Layaknya seperti relawan lainnya, Basyirun mengenakan badge Universitas Janabadra Yogyakarta dan ikat kepala putih bertuliskan "Peduli Aceh." Namun dia tidak mengenakan jas almamater universitas tersebut yang terletak sekitar 300 meter dari tempat beroperasi. Dia hanya mengenakan baju lengan panjang putih dan saku kiri depan dipasangi badge tersebut.Dengan gaya meyakinkan, dia membawakan kotak sumbangan dari kardus bekas mie instan bertuliskan "Ulurkan Tangan untuk Korban Bencana Gempa dan Tsunami." Tulisan itu tidak ditulis tangan namun diprint komputer.Seperti seorang relewan dengan cekatan dia menyodorkan kotak itu kepada setiap pengendara motor di simpang empat Pingit terutama di antara Jl Diponegoro, Jl Kyai Mojo, Jl Magelang dan Jl Tentara Pelajar. Bahkan tersangka juga sempat beroperasi di simpang tiga Borobudur Plaza.Kasatreskrim Poltabes Yogyakarta Kompol Endi Sutendi mengatakan, tertangkapnya Basyirun berkat kejelian dan kecurigaan petugas Polsek Jetis yang bermarkas tidak jauh dari lokasi Basyirun beraksi pada Kamis 6 Januari 2005. Petugas saat itu curiga melihat dia hanya seorang diri mencari dana di simpang empat Pingit.Ketika didatangi petugas, tersangka tidak bisa menjawab pertanyaan siapa dan di mana posko induk yang memerintahkan dia bertugas. Bahkan ditanya tempat untuk menyalurkan bantuan lainnya dia juga tidak tahu."Uang itu ternyata akan dipakai sendiri. Selain itu dia juga tidak memakai jas almamater dan tidak pakai tanda pengenal lainnya," kata Endi kepada wartawan di Mapoltabes Jl Reksobayan Yogyakarta, Jumat (7/1/2005).Selama dua hari beroperasi, tutur dia, tersangka berhasil mengumpulkan Rp 194 ribu. Pada hari pertama berhasil mengumpulkan uang Rp 62 ribu dan pada hari kedua Rp 132 ribu.Berdasarkan pantauan detikcom, hingga saat ini jumlah posko kemanusiaan maupun sukarelawan yang mengumpulkan dana di jalan-jalan mulai berkurang. Hanya ada beberapa tempat yang masih berdiri, antara lain di perempatan Jl Sudirman, Bunderan UGM, dan Perempatan Kantor Pos Besar di Jl Senopati.Sudah ada beberapa warga Yogyakarta yang melaporkan ke Posko Aceh di Yogyakarta mengenai adanya orang yang mencari sumbangan untuk Aceh namun tingkah lakunya mencurigakan. Kasus itu antara lain terjadi di wilayah Mlati Sleman dan Jl Kaliurang Km 8 Sleman.Ny Widiastuti warga Sinduadi Mlati kepada detikcom mengatakan pada hari Selasa 4 Januari 2005 pukul 11.00 WIB, rumahnya didatangi dua perempuan yang meminta sumbangan. Namun kedua orang itu tidak mengenakan jas almamater, hanya tanda pengenal kertas warna putih bertuliskan Komite Untuk Aceh tanpa ada foto.Menurut Widiastuti, dirinya dan tetangga sekitar rumah merasa curiga dengan tingkah laku kedua orang tersebut. Ada juga relawan ibu-ibu setengah baya minta sumbangan hingga masuk ke kampung dengan berjalan kaki."Ada namanya tapi saya lupa namanya. Ketika saya tanya alamat poskonya, dia tidak mau menjawab, malah terus pergi," katanya.Sementara itu secara terpisah, M Dahlan salah seorang anggota posko Komite Kemanusiaan untuk Aceh di Bale Gadeng Asrama Cut Nyak Dien di Jl Kartini Sagan Yogyakarta mengingatkan warga Yogyakarta dan sekitarnya agar waspada terhadap praktek penipuan dengan menggunakan kedok sumbangan korban tsunami Aceh."Semua anggota relawan yang mencari dana menggunakan tanda pengenal organisasi atau perguruan tinggi masing-masing. Kita sejak awal sudah meminta semua pihak untuk memakai pengenal agar tidak ada orang yang berusaha memanfaatkan kesempatan," katanya.
(sss/)










































