"Prinsipnya perlindungan jamaah itu bagi kita segala-galanya dan itu semenjak bulan puasa sampai syawal (kontrak dengan majmuah) sudah tidak ada masalah," kata Dirjen PHU Kemenag, Abdul Djamil, saat mengunjungi salah satu pemondokan di luar markaziyah Masjid Nabawi, Rabu (17/9/2014).
Abdul Djamil bersama tim dari Kemenag memang memantau langsung dan mendengarkan keluhan dari jamaah yang pemondokannya berada di luar markaziyah. Jarak pemondokan di luar markaziyah dengan Masjid Nabawi paling jauh 3 kilometer.
"Jadi yang saya lihat itu kepadatan jamaah, jadi pemondokan yang over capacity, kemudian sejumlah fasilitas yang tidak layak sehingga solusi alternatifnya untuk jamaah agar mudah ke masjid nabawi diberi transportasi khusus," katanya, membuat para jamaah haji lega.
Meskipun ini sepenuhnya kesalahan para majmuah namun dia meminta maaf kepada para jamaah haji Indonesia. Utamanya para jamaah haji yang ditempatkan di luar markaziyah.
"Kami atas nama kementerian agama saya Dirjen Bimas Islam menyampaikan maaf jamaah kepada para jamaah haji atas ketidaknyamanan. Ada kekecewaan tentu saya memahami dan saya melihat langsung," ungkapnya.
Selain memantau pemondokan jamaah haji, Abdul Djamil juga akan memantau langsung penyediakan katering jamaah haji. Karena banyak juga keluhan jamaah haji soal katering.
"Katering saya habis ini akan ke perusahaan katering atas keluhan yang disampaikan seperti menu yang monoton dan lain-lain. Jadi sesungguhnya sudah ada standar dan prosedur tertulis yang disepakati, jadi memang ini harus kita kawal betul," ujarnya mengajak Media Center Haji ikut memantau pelayanan kepada para jamaah haji.
(van/fjp)











































