"Mereka menggunakan bahasa Uighur, salah satu bahasa daerah di Turki," ujar Kapolri Jenderal Sutarman di kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Minggu (14/9/2014).
Dalam pemeriksaan terakhir, keempatnya mengakui dari Turki menuju ke Kamboja dengan menggunakan jalur laut. Sesampainya di Kamboja, mereka menempuh jalur darat menuju Thailand.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petugas sudah mencurigai gerak-gerik keempat WNA itu sejak mereka berada di Makassar. Sehingga petugas mulai mengikuti mereka sejak di Makassar hingga ditangkap di Poso.
"Ikuti di belakangnya, kemudian juga tempat-tempat yang akan dilalui, itu juga sudah kita pasang. Menuju ke Poso juga kita sudah pasang personel kita untuk melakukan razia. sehingga terjadilah tindakan yang dilakukan oleh kepolisian. Razia ini menemukan atau mencegat kelompok mereka," terangnya.
Setelah dilakukan penangkapan, polisi menyita beberapa dokumen seperti tiket pesawat dan paspor palsu. 4 WNA tersebut diduga akan bergabung dengan buron teroris dari jaringan Santoso melalui perantara Daeng Roro.
"Santoso ini adalah kelompok terorisme yang ada di Indonesia, yang selama ini menjadi buronan Polri. Karena itu, sinyalemen kita seperti itu," ucapnya.
"Berarti dari situlah terindikasi mereka akan melakukan, mungkin, pelatihan terorisme dan setelah itu akan melakukan terorisme," tambahnya.
4 WNA itu sebelumnya disebut berasal dari Turki, namun ternyata mereka adalah WN Tiongkok yang tinggal di daerah perbatasan Turki-Tiongkok, atau dikenal sebagai suku Uighur. Mereka diduga terkait dengan kegiatan ISIS/IS di Indonesia.
(fiq/vid)











































