Laporan dari Wina

Serba Superlatif 60 Tahun Hubungan Bilateral RI-Austria

- detikNews
Minggu, 14 Sep 2014 13:23 WIB
Wina - Disangga penampilan prima seni budaya Indonesia, sebagian bahkan dimainkan oleh warga Austria, perayaan 60 Tahun Hubungan Bilateral RI-Austria berlangsung serba superlatif dan meriah.

Perayaan berlabel Indonesian Cultural Evening yang juga sekaligus memperingati H.U.T Kemerdekaan RI ke-69 itu digelar di tempat prestisius kebanggaan Austria: Mozartsaal, Wiener Konzerthaus, Jumat malam waktu setempat atau Sabtu (13 September 2014) dinihari WIB.

Persembahan pertama Tari Panyembrama, sebuah tarian untuk menyambut tamu kehormatan, menggetarkan Ruang Mozart (Mozartsaal). Diiringi gamelan Bali yang dimainkan langsung (live), penari melenggak-lenggok dengan klimaks menaburkan bunga sebagai simbol selamat datang dan menandai dimulainya acara, yang didukung penuh Kemenparekraf itu.

Dengan dukungan audiovisual yang mencitrakan Indonesia dan daerah asal tarian, tata lampu, dekor dan interior akustik standar tinggi, aura magis Bali seperti hadir nyata dalam gedung konser bergaya arsitektur art nouveau itu.

Maka ketika nada terakhir menguap ke atmosfir dan para penari menghilang di balik layar, meledaklah aplaus panjang publik Austria yang dikenal sangat konservatif: 36 detik lamanya.

Namun, puncak aplaus membahana dari publik yang memadati ruang berkapasitas 704 orang itu terjadi ketika Duta Besar RI Rachmat Budiman sendiri naik panggung tampil menyanyikan lagu pop setempat gubahan Rainhard Fendrich, I am from Austria, dalam bahasa Viennese German tentu saja.

Ref:
So wia dei Wasser talwaerts rinntunwiederstehlich und so hell
Fast wia die Traenen von am Kindwird a mei Bluat auf amoi (einmal) schoe
Sog i am Mensch der Welt vio stolzund wann ihr woits a ganz allan (allein)
I am from Austria...


Rachmat Budiman di panggung adalah Rachmat Budiman seniman, seorang artis dan entertainer yang di luar ekspektasi tamu kehormatan, kalangan diplomatik, dan publik Austria, mampu bermetamorfosis nyaris tanpa jejak bahwa dia seorang top diplomat.

Dalam dinamika nada, dengan aksentuasi instrumen Sasando dari Pulau Rote dan biola, Rachmat Budiman piawai melibatkan publik dengan sangat komunikatif. Seisi Ruang Mozart pun larut ikut menyanyikan lagu yang sangat populer di Austria pada era 90-an itu.

Puas menghangatkan suasana dan menguasai panggung, Rachmat Budiman pada bagian refrain tiba-tiba menyanyikan lagu Indonesia Pusaka dan membakar semangat cinta tanah air warga Indonesia. Reaksi yang terjadi sungguh heroik. Giliran warga Indonesia serentak ikut menyanyi, ada pula yang sampai menitikkan air mata.

Tak berhenti sampai di situ. Diplomat senior berdarah Sunda ini dengan akting sangat genit dan atraktif masih menghibur para tamu dengan lagu Neng Geulis, dengan irama soul nan dinamis.

Persembahan lainnya malam itu antara lain demonstrasi Pencak Silat Sumatera Barat oleh para pesilat bule Austria, dan musik Sasando dari Pulau Rote diiringi biola dan saksofon menampilkan lagu klasik An Der Schoenen Blauen Donau dengan irama waltz.

Kemudian Tari Pendet, Tari Rejang Dewa (Bali), Tari Merak, Tari Jaipong, Tari Kendang, Orkestra Angklung (Jawa Barat), Tari Ngarojeng (Betawi), Musik Kolintang (Sulawesi Utara), lagu O Ina Nikeke (Minahasa) dan Yamko Rambe (Papua).

Perangkat visual di latar belakang memandu publik untuk tahu di mana letak geografis daerah-daerah tersebut, sekaligus membawa ke alam kesadaran mereka betapa besarnya Indonesia, indah alamnya dan sangat beragam seni budayanya.

"Sebagaimana Anda tak diragukan lagi telah menyadari betapa Indonesia adalah sebuah negara superlatif," ujar Dubes Rachmat Budiman saat mengawali sambutan pembukaan.

Pesona budaya itu pula yang membuat seniman Prof. Helmut Kand jatuh cinta pada Indonesia dan diakuinya telah banyak menginspirasi karya-karyanya.

Video mengenai Kand, Foreign-Born Indonesian Artist: Head in Vienna, Heart in Bali" diputar pada malam itu, memberi gambaran betapa Indonesia-Austria sangat dekat dan menginspirasi warga Austria untuk datang dan mengenal Indonesia lebih lanjut.

Setelah pemutaran The Making of Batik yang menunjukkan keadidayaan, superlatif Indonesia dalam seni berbusana, acara disempurnakan dengan orkestra angklung interaktif yang dipandu dengan baik oleh Ika Widianingsih.

Bukan denting piano atau buaian biola, tapi Ruang Mozart malam itu digetarkan oleh nada multitonal angklung yang seolah-olah berhembus dari bumi Priayangan mengisi tiap relung Wiener Konzerthaus dan terutama jiwa warga Austria yang hadir.

"It was amazing, erstaunlich. Saya belum pernah menghadiri rangkaian konser yang fantastis seperti ini. Bagaimana mungkin karya kerajinan ini mampu menghasilkan nada-nada yang juga dapat untuk memainkan komposisi lagu-lagu modern," komentar Ibu Mueller sambil menggamit tangan puterinya.

Instrumen angklung yang dibagikan kepada para tamu boleh dibawa pulang sebagai cenderamata. Dan benda aneh kerajinan dari bambu nun jauh dari Indonesia itu disambut dengan suka cita.

indonesia tanah air beta
pusaka abadi nan jaya
indonesia sejak dulu kala
tetap di puja-puja bangsa

di sana tempat lahir beta
dibuai dibesarkan bunda
tempat berlindung di hari tua
tempat akhir menutup mata


Hadir pada malam Perayaan 60 Tahun Hubungan Bilateral RI-Austria itu antara lain Direktur Implementasi Kebudayaan dan Kegiatan Ilmiah Luar Negeri Kementerian Federal Austria untuk Eropa, Integrasi dan Urusan Luar Negeri Christian Brunmayr, Deputi Protokol Kantor Presiden Federal Austria Katharina Wieser, lebih dari 50 dubes asing dan kalangan diplomatik serta pemerintah setempat.

(es/es)