Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan ini membagi pengalamannya saat menjalankan salat di dalam pesawat tersebut. Menurut Tjandra, ada sedikit ruang kosong yang dapat digunakanan di samping pitu darurat.
"Awak pesawat menyediakan sajadah dan memberi tahu arah kiblat, yang tentunya ber-ubah-ubah sesuai dengan arah pesawat," kata Tjandra melalui surat elektronik yang diterima detikcom, Sabtu (13/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jauh di atas bumi, rasanya kok lebih khusyuk, mungkin karena merasa dekat ke 'atas'," katanya.
Tjandra mengaku, biasanya ia hanya tayamum dan salat sambil duduk saat berada di dalam pesawat. Namun melihat ada pramugari yang menyediakan sajadah di dekat pintu emergency, ia lantas berwudhu di dalam toilet.
"Masalahnya tentu waktu cuci kaki, jadinya saya siram saja masing2 kaki dengan gelas kertas di kamar mandi, kakinya di atas toilet, sehingga lantai kamar mandi pesawat tetap kering," papar Tjandra.
Ia kemudian salat di ruang kosong di depan pintu emergency. Rukuk dan sujud Tjandra lakukan seperti salat pada umumnya.
"Waktu saya ruku dan sujud pesawat sedang tenang terbangnya, jadi sama sekali tidak goyang-goyang," ujarnya.
"Kalau ada turbulence dan penumpang disuruh pakai seat belt, maka saya juga tidak tahu apakah yang sedang salat akan harus berhenti dulu atau tidak," tambah Tjandra.
Salat di pesawat yang dilakoninya kala itu adalah jama qasar Dzuhur dan Ashar. Saat itu menurutnya, lampu pesawat dalam kondisi menyala. "Saya tidak lakukan lagi saat Magrib dan Isya karena waktu itu lampu pesawat sudah dimatikan, saya salat di kursi saja," tutupnya.
(kff/kha)











































