Cerita Kiai Shodiq 33 Tahun Jadi Pembimbing Haji

Laporan dari Arab Saudi

Cerita Kiai Shodiq 33 Tahun Jadi Pembimbing Haji

- detikNews
Sabtu, 13 Sep 2014 15:00 WIB
Cerita Kiai Shodiq 33 Tahun Jadi Pembimbing Haji
Madinah - Kiai Shodiq Hamzah (60) sudah 33 tahun menjadi pembimbing haji. Di sela-sela kesibukannya membimbing jamaah haji asal embarkasi Solo, Kiai Shodiq berbagi suka-duka selama tiga dasawarsa menjadi pembimbing ibadah haji.

"Jamaah itu ada kadang-kadang kan minta pulang. Nah bagi pembimbing harus punya ilmu penglulutan (menenangkan) sehingga mereka nggak jadi, tenang, dan aktif ibadah," kata Shodiq yang menjadi pembimbing haji sejak usia 18 tahun tersebut memulai ceritanya kepada wartawan di Kantor Urusan Haji Indonesia Daerah Kerja Madinah, Sabtu (13/9/2014).

Shodiq sering menerima keluhan jamaahnya, terutama yang pemondokannya jauh dari Masjid Nabawi selama di Madinah. "Jadi maunya jamaah itu kan ingin dekat biar salat 40 waktu itu tercapai, dibebaskan dari api neraka, dan dibebaskan dari sifat munafik. Tiba-tiba dapat jauh di sini ya saya mau nggak mau harus menenangkan terus," kata Shodiq.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebenarnya dia sendiri tak punya ambisi macam-macam selain beribadah. Dia menjadi pemimbing haji dengan ikhlas untuk menabung pahala di akherat.

"Biar seperti anak kecil nggak punya dosa, jadi sewaktu-waktu tuhan memanggil itu bersih lah, nggak ada dorongan lain," ujarnya.

Shodiq menjadi pembimbing haji idola di embarkasi Solo. Setiap tahun jamaah memintanya jadi pembimbing.

"Karena masih dibutuhkan terus, wong sampai tahun 2028 itu daftarnya menumpuk itu," katanya terkekeh.

Ada satu kenangan menarik yang selalu diingatnya selama 33 tahun menjadi pembimbing haji yakni saat seorang suami istri meminta bantuan dicarikan kamar khusus.

"Pengalaman yang saya ingat ya itu. Kalau pengalaman yang tidak bisa ilang itu biasanya saya mencarikan kamar khusus. Bagi suami istri dulu itu sampai saya menunggui di depan pintu. Karena tiap hari bertengkar saya tanya itu apa maksudmu, ya saya antar. Hotelnya nggak mau, akhirnya di ruang maktab, saya sampai nunggu di depan pintu. Sudah itu dia ngguyu ngguyu (ketawa-ketawa) saya nggak dapat persen apa," candanya sembari tertawa.

"Itu tiap tahun ada, ada yang minta pak siapkan hotel, hotel sudah saya bayar, loh nggak jadi. Katanya bagaimana wong istri saya sampai sini menstruasi," lanjutnya terkekeh.

Tak Ada yang Istimewa

Sementara itu soal pelayanan kepada jamaah haji, menurut Shodiq, tak ada yang istimewa. Dia sudah menjadi pembimbing haji 33 tahun dan merasakan berbagai kebijakan menteri.

"Pak Maftuh bayarnya sama tapi karena jauh dan dekatnya dibedakan jadi dapat pengembalian banyak. Seperti markaziyah dan tidak markaziyah itu lain ada pengembalian. Loh ini belum ada pengembalian bagaimana ini," katanya sembari tertawa.

Bagi Shodiq tak ada yang istimewa dari penyelenggaraan ibadah haji selama ini. Dia menyindir Kemenag yang menggembar-gemborkan pelayanan haji semakin baik.

"Bagi saya itu nggak ada keistimewaan, ya begitu-begitu saja. Bagi saya sama saja. Arofah, Musdalifah ya seperti itu," katanya.

Dia punya saran agar WC di Mina ditingkat supaya antreannya tidak panjang dan jamaah lebih nyaman. "Kalau antre sampai 100 meter itu kalau yang nggak tahan ya bagaimana," katanya.

Pelayanan jamaah selama di pemondokan juga menurutnya tidak maksimal. "Ada waktu datang dikasih makan sekarang tidak. Jadi tiap tahun itu naik turun. Nggak ada istimewanya, bagi saya gitu-gitu terus," kritiknya.

(van/aan)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads