Dalam open house Puslit Biologi Bidang Botani yang digelar di LIPI Cibinong Science Center (CSC), Cibinong, Bogor, ditampilkan beberapa daun tanaman yang dapat menjadikan pakaian kita cantik berwarna warni. Salah satu di antaranya adalah daun dari tanaman liar Kareumbi (Omalanthus Popilneus).
"Iya ini tanaman liar, banyak kok di jalan-jalan. Daunnya saja yang dipakai. Kita di sini hanya pergunakan daunnya. Kalau pakai batang atau kulit pohon bisa merusak tanaman," ujar peneliti Puslit Biologi bidang Botani Dra. Diah Sulistiarini di lokasi, Jumat (12/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, pewarna pakaian dari daun tanaman ini tak dapat berdiri sendiri. Ada bahan Fixsasi yang diperlukan untuk mengikat pakaian, di antaranya kapur sirih, tawas, dan Fero Sulfat (Fe So4).
Menurut Diah, warna yang dihasilkan dari tiap daun tanaman bisa berbeda-beda tergantung dari bahan Fixsasi yang digunakan. Jenis bahan pun juga menentukan hasil warna yang dihasilkan.
"Warna tergantung fixsasi dan bahannya. Warna hasil beda. Pakaii Fe So4 umumnya kehitaman (gelap), kalau pakai tawas lebih muda, kapur agak terang," kata Diah.
Proses pewarnaan pakaian ini relatif mudah dan bisa dikerjakan sendiri di rumah. Langkah awal adalah dengan merebus daun tanaman yang diinginkan, setelah itu bahan kain atau pakaian lantas direndam ke dalam air rebusan tersebut.
Lama perendamannya pun tergantung sampai seperti apa hasil yang kita inginkan. Langkah terakhir adalah dengan mencelupkan hasil bahan/kain atau pakaian rendaman ke bahan pengikat warna (fixsasi).
Diah pun sempat menunjukkan bagaimana proses pewarnaan tersebut. Jantung pisang jika difixsasi dengan kapur akan menjadi warna cokelat, jika dengan Fe So4 menjadi biru kehijauan, sementara dengan tawas menjadi warna soft.
"Kita berhasil mendapat warna kemerahan alpukat pakai kapur. Daun mahoni pakai kapur juga bagus. Kalau pewarnaan dengan proses ini jelas aman, karena dari daun, alami ya," tutur peneliti yang yang menangani klasifikasi anggrek ini.
Untuk pewarnaan dengan menggunakan tanaman makanan seperti kunyit disebut Diah justru hasilnya kurang bagus. "Yang kelihatannya bagus dari daun jambu-jambuan. Bisa menampilkan warna soft dan biru," sambungnya.
Pengunjung pun terlihat tertarik pada booth ini. Sejumlah siswa sekolah tampak menyoba proses pewarnaan alami tersebut. Bahkan rombongan ibu-ibu dari Batik Bogor Handayani Geulis sangat antusias.
"Ini menarik ya. Kami punya program Batik go to school di Bogor, mengajari pembatikan ke sekolah-sekolah. Bisa kami sampaikan nanti proses pewarnaan alami ini," ujar salah satu anggota rombongan, Ibu Lilis saat menyaksikan proses pewarnaan.
Pewarna alami dari daun tanaman juga bisa digunakan sebagai bahan pewarna untuk pembuatan batik. Sejumlah kain-kain batik cantik hasil pewarnaan pun dipamerkan dalam booth ini.
(ear/aan)











































