Penjahat Incar Korban Tsunami

Penjahat Incar Korban Tsunami

- detikNews
Jumat, 07 Jan 2005 07:22 WIB
Jakarta - Nasib buruk sudah menimpa para korban tsunami. Tetapi sekarang para korban juga menghadapi ancaman baru. Ancaman itu dari penjahat dan orang-orang yang ingin mempergunakan musibah yang menghantam mereka untuk mencari uang.Kejahatan terhadap korban bencana alam ini memang tidak meluas tetapi membuat korban semakin trauma dan dampaknya bisa sangat buruk bagi kesehatan mental mereka. Seperti yang dilaporkan BBC, penjarahan dilaporkan terjadi di negara-negara di seputar Samudra Hindia yang dilanda bencana. Banyak rumah, toko bahkan mayat korban yang menjadi sasaran. Dan di Sri Lanka, beberapa korban yang mengungsi dikatakan diperkosa di kamp-kamp pengungsian."Keadaan pasca bencana seperti ini adalah kesempatan emas bagi kriminal untuk mencari uang," kata psikolog kejahatan Mike Berry. Banyak korban tsunami yang mengalami depresi berat dan ini menjadikan mereka sasaran empuk bagi orang-orang jahat, lanjutnya,Salah satu bentuk kejahatan lain yang dikhawatirkan terjadi adalah kelompok-kelompok kriminal mendekati anak-anak yang kehilangan orang tua akibat bencana tsunami dan kemudian menjual mereka sebagai pekerja seks.Pemerintah Indonesia sudah melarang anak-anak dibawah usia 16 tahun dibawa keluar dari provinsi Aceh karena khawatir sindikat perdagangan manusia beroperasi di daerah-daerah yang terkena bencana. Dana Anak Anak PBB, Unicef, mengatakan telah menerima sejumlah laporan bahwa penjahat menawarkan anak-anak yang dibawa dari Aceh untuk dijual atau diadopsi.Jurubicara Unicef di Indonesia, John Budd mengatakan satu kasus dapat dikukuhkan di mana seorang anak secara diam-diam dibawa keluar Aceh ke Medan untuk dijual.Dia juga mengatakan ada laporan-laporan yang belum dikukuhkan tentang 20 anak dibawa ke Malaysia dan kemungkinan ratusan dibawa ke Jakarta.John menekankan, beberapa anak memang dibawa keluar Aceh oleh orang-orang yang berniat membantu, tetapi Unicef khawatir ada kelompok penjahat yang berpura-pura menjadi LSM atau teman keluarga yang berkedok ingin menolong.Budd baru-baru menyadari adanya praktek kriminal ini setelah beredar pesan SMS di sejumlah negara Asia yang menawarkan penjualan 300 anak yatim piatu dari Aceh. Unicef segera akan mendaftar anak-anak di Aceh yang kehilangan orangtua atau keluargaAncaman terhadap anak-anak korban gempa tidak hanya terjadi di Aceh. Ada beberapa laporan tentang anak lelaki berusia 12 tahun asal Swedia yang terluka akibat tsunami di Thailand mungkin diculik dari sebuah rumah sakit. Ayah bocah itu yang berkewarganegaraan Amerika terbang ke Thailand untuk mencarinya. Tetapi petugas rumah sakit mengatakan anak itu sudah tidak ada lagi sejak sehari sebelumnya. Di Sri Lanka, Aparat Perlindungan Anak Nasional tengah menyelidiki laporan-laporan penyiksaan seksual terhadap 2 anak perempuan di kamp penampungan di Galle, dan sebuah laporan terpisah dikatakan seorang wanita lainnya diperkosa oleh sekelompok pria.Seperti yang dikutip AFP, polisi mengatakan mereka tidak menerima laporan tentang perkosaan itu tetapi sebuah LSM di Colombo mengatakan menerima laporan tentang "insiden perkosaan, penyiksaan seksual dan fisik".John Berry dari Unicef mengatakan, banyak orang merasa marah dengan bencana yang melanda dan kemungkinan ada orang-orang yang melampiaskan tekanan berat ini kepada wanita. Korban yang meninggal pun menjadi sasaran. Perhiasan dilaporkan dirampas dari korban-korban yang tewas di Thailand - dan dari rumah serta toko.Kejahatan lainnya adalah soal peringatan palsu adanya tsunami seperti yang terjadi di negara-negara lain di Asia lainnya. Di Timor Leste dan Malaysia, muncul laporan-laporan adanya ancaman gempa yang membuat warga meninggalkan kampung mereka, sehingga rumah kosong dan menjadi sasaran penjarah dan pencuri.Orang-orang yang mengambil kesempatan tidak hanya mengincar negara-negara yang terkena gempa tetapi juga negara-negara lain yang warganya hilang atau tewas dalam bencana ini. Lebih dari 2.000 orang asal Swedia dikhawatirkan tewas tetapi pihak berwenang di Stockholm mengatakan mereka tidak menerbitkan nama-nama mereka karena takut rumah orang-orang itu didatangi maling.Penjahat juga mempergunakan niat baik orang yang ingin memberi sumbangan uang. Kotak donasi bagi korban bencana gempa dan tsunami dicuri dari Katedral Salisbury di Inggris. Pesan email palsu yang mengaku dari LSM Oxfam dikirim ke warga Hong Kong, meminta mereka memberi sumbangan. Menurut polisi, uang yang dibayarkan ternyata masuk ke sebuah rekening bank di Eropa. (mar/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads