"Esensi demokrasi itu partisipasi. Pilkada langsung membuka ruang partisipasi publik," kata Bima kepada detikcom, Rabu (10/9/2014).
Lewat Pilkada langsung, seorang pemimpin diikat secara emosional dengan pemilih. Isu-isu lokal juga jadi lebih terperhatikan. Inilah yang membuatnya terus bergerak membuat perubahan di kota Bogor selama ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski berbeda pandangan dengan PAN, Bima menegaskan tak akan meniru langkah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk mundur dari partai. Perbedaan itu, kata Bima, sudah biasa, namun bukan alasan untuk keluar dari partai.
"Kita harus terbiasa mengelola perbedaan. Parpol harus terus dibangun. Right or wrong is my party. We are proud when it is right. When it is wrong, make it right. Saya ikut mendirikan PAN tahun 1998 di Bandung. Sekali matahari, tetap matahari," tegasnya.
Ahok berencana menyerahkan surat pengunduran dirinya hari ini. Sejumlah elite partai Gerindra merespons keras keputusan Ahok dengan menyebutnya tak tahu diri hingga meminta mundur sebagai wakil gubernur.
(mad/ndr)











































