Setelah Dikritik, Arab Saudi Tambah Bantuan Bagi Korban Tsunami

Setelah Dikritik, Arab Saudi Tambah Bantuan Bagi Korban Tsunami

- detikNews
Jumat, 07 Jan 2005 00:42 WIB
Jakarta - Pemerintah Arab Saudi meningkatkan janji bantuannya dari US$ 10 juta menjadi US$ 30 juta setelah mengkaji kembali besarnya tragedi yang terjadi. Televisi negara Arab Saudi juga mengadakan malam dana bagi korban tsunami dan gempa bumi.Namun penambahan besarnya bantuan Arab Saudi ini, setelah mendapat kritikan. Negara Arab dinilai kikir untuk memberikan bantuan kendati yang menjadi korbannya adalah sebagian besar warga muslim.Masyarakat internasional berjanji untuk memberi dana U$ 3 miliar bagi negara-negara yang terkena tsunami dan gempa bumi, US$ 85 juta di antaranya berasal dari negara-negara Teluk Persia.Media massa di kawasan Teluk menghimbau agar pemerintah mereka berbuat lebih banyak terutama karena sebagian kawasan yang paling parah terkena, seperti Indonesia, adalah negara berpenduduk Muslim. Akan tetapi Duta Besar Arab Saudi untuk Inggris Raya, Pangeran Turki al Faisal membantah bahwa tambahan bantuan itu merupakan tanggapan langsung atas kritik yang ditujukan kepada pemerintah."Sumbangan awal itu dijanjikan ketika berita gempa pertama kali muncul, jadi gambaran tentang kerusakan yang terjadi belum begitu jelas,"" katanya seperti yang dikutip BBC."Begitu keadaannya jelas, diputuskan untuk meningkatkan sumbangan sebanyak tiga kali lipat," kata Pangeran Turki.Kepelitan KolektifUni Emirat Arab sudah menjanjikan bantuan sebanyak US$ 20 juta, sedangkan Kuwait menambah janji bantuan awalnya dari US$ 1 juta menjadi US$ 10 juta. Sedangkan Qatar menawarkan bantuan US$ 25 juta, ditambah makanan, bantuan medis, dan logistik.Sebagai bandingan, dua negara yang paling banyak menyumbang adalah Jerman dan Australia, yang masing-masing menjanjikan bantuan US$ 674 juta dan US$ 765 juta dalam waktu lima tahun.Harian Al Qabas di Kuwait pekan lalu mengkritik negara-negara Teluk Persia yang tidak menyumbang lebih banyak. "Kita harus menyumbang lebih banyak, kita kaya," kata pemimpin redaksi Al Qabas Waleed Al Nusif.Di Lebanon, harian Daily Star menuduh negara-negara Timur Tengah menderita kepelitan kolektif pada saat manusia sedang membutuhkan seperti sekarang, seraya menambahkan mereka seharusnya lebih dalam mengeruk kocek masing-masing. (mar/)


Berita Terkait