Rapat Pengurus Harian DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan Ketum Suryadharma Ali (SDA) berlangsung panas. Jelang dini hari terdengar suara teriakan dan gebrakan meja di ruang rapat lantai 3 Kantor DPP PPP. Kenapa?
Emron Pangkapi yang baru saja ditunjuk sebagai Plt Ketum DPP PPP bercerita soal kejadian tersebut. Teriakan dan suara gebrakan meja saat rapat ternyata terkait SDA yang menolak mundur dari jabatannya.
"Di rapat hari ini, sebagian besar peserta juga meminta Pak SDA dengan legowo mengundurkan diri dari jabatannya dalam rangka konsentrasi penuh menghadapi persoalan hukum, dan sekaligus memisahkan rentang persoalan pribadi beliau dengan persoalan partai. Sehingga demikian, kita berharap partai tidak mempunyai imbas dalam kaitan status hukum beliau," kata Emron.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampai rapat tadi berjalan 4 jam, beliau (SDA) menolak mengundurkan diri. Atas pertimbangan itu kemudian peserta rapat mengusulkan agar diberhentikan. Maka dengan menggunakan pasal 10 AD partai, maka Pak SDA diberhentikan oleh rapat Pengurus Harian DPP partai," imbuh Emron.
Rapat jadi memanas karena Pengurus Harian PPP terpecah menjadi dua kubu. Ada pihak yang mendukung SDA segera diberhentikan. Ada pula yang membela mantan Menteri Agama yang ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi terkait penyelenggaraan haji itu.
Suryadharma memang meninggalkan rapat yang masih berlangsung dengan wajah kesal tidak berapa lama sebelum dirinya diumumkan resmi dipecat sebagai Ketum DPP PPP. Suryadharma menyebut pemecatan dirinya sudah diskenariokan.
"Jadi rapat pada malam hingga pagi ini, adalah rapat DPP yang paling tidak sehat karena ada rapat di dalam rapat, atau ada rapat sebelum rapat. Rapat sebelum rapat itu sudah mengambil keputusan, yang kemudian keputusan itu dipaksakan," kata dia.
Dia lantas menyebut sejumlah nama elite partai yang menjadi 'aktor' menggulingkan kepemimpinannya.
"Sekjen ya (Romahurmuziy), Waketum Emron Pangkapi, Waketum Lukman (Lukman Hakim Saifuddin), Waketum Suharso Monoarfa," kata Suryadharma.
(bar/fdn)











































