Dia berujar negara tak berkewajiban untuk menyediakan lahan parkir sebanyak mungkin. Ahok mengumpamakannya sama seperti ketika seseorang membeli alat-alat elektronik lalu meminta pemerintah menyediakan hunian.
“Ya enggak mungkin beli mobil dikasih parkir. Sama saja kayak sudah beli AC dan Kulkas, terus setelah keluar dari supermarket saya protes sama pemerintah, mana nih negara kok enggak ngasih saya rumah. Masuk akal gak kayak gitu. Ya kalau nuntutnya begitu ya sudah lain ceritanya,” kata Ahok kepada wartawan di Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (9/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Justru di negara maju tarif parkir dimahalkan agar tidak ada kendaraan diparkir. Di seluruh dunia malahan, kalau kamu mau beli mobil syaratnya harus punya tempat parkir. Kalau yang protes-protes gitu mah nggak usah heran, anakku yang kecil saja protes,” ucapnya.
Orang nomor dua di DKI ini menegaskan pemprov tidak akan menambah lahan parkir untuk mengimbangi jumlah kendaraan yang makin bertambah setiap tahun. Alih-alih memperbanyak lahan parkir, dia menyebut akan menertibkan lokasi parkir liar antara lain dengan menerapkan sanksi derek, cabut pentil, dan penggembokan.
Dalam waktu dekat pihaknya juga akan mengujicoba mekanisme parkir meter, yang bertujuan untuk membatasi jumlah kendaraan yang parkir. “Enggak ada (menambah). Justru kita mau hilangkan lahan parkir on street di Jakarta nanti, kita maunya offstreet,” kata dia.
(ros/fjp)











































