Belajar Mengajar Darurat di Aceh Dimulai 20 Januari
Kamis, 06 Jan 2005 17:43 WIB
Banda Aceh - Proses belajar secara darurat di Aceh akan dimulai pada 20 Januari 2005. Depdiknas sedang mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan. Pendataan terhadap siswa-siswa juga masih dilakukan.Hal ini disampaikan Mendiknas Bambang Sudibyo kepada wartawan di Pendopo Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Banda Aceh, Kamis (6/1/2005). Saat ini, kata Mendiknas, Depdiknas sedang mendata jumlah guru dan siswa, serta gedung sekolah yang bisa dimanfaatkan sebagai saran proses belajar secara darurat. "Kita dalam proses untuk memulihkan belajar mengajar yang akan dimulai 20 Januari 2005. Untuk itu, akan dibuka sekolah darurat, terutama di kabupaten Simeulue, Meulaboh, Aceh Jaya, Banda Aceh, dan lokasi-lokasi lain," kata Bambang. Menurut dia, Depdiknas akan mempersiapkan sarana pendidikan darurat untuk pemulihan bagi siswa yang berada di kamp pengungsian. Termasuk menyiapkan tenda-tenda darurat berikut peralatan yang dibutuhkan, seperti mebeler, peralatan sekolah, buku-buku pelajaran, alat-alat olah raga dan kesenian. Data yang dihimpun Departemen Pendidikan Nasional yang telah dibahas dalam rapat Menko Kesra 4 Januari 2005 lalu, sampai 3 Januari, jumlah penduduk yang meninggal sebanyak 79.490 orang. Sementara jumlah pengungsi sebanyak 126.302 orang, yang tersebar di 95 lokasi pengungsian yang berada di kota Banda Aceh, kabupaten Aceh imur, Aceh Utara, Kota Langsa, dan kabupaten Bireun. "Dari sekian jumlah pengungsi itu, diperkirakan 60 ribu orang anak usia sekolah, SD, SMP, dan SMA," ungkap Bambang. Sementara gedung sekolah yang rusak sebanyak 1.151 sekolah yang terdiri dari 914 SD, 155 SMP, 67 SMA, dan 15 SMK.
(asy/)











































