Ganggren Berujung Amputasi Hantui Korban Tsunami

Ganggren Berujung Amputasi Hantui Korban Tsunami

- detikNews
Kamis, 06 Jan 2005 17:17 WIB
Jakarta - Masalah kesehatan terus membayangi para korban tsunami seperti diare dan radang paru-paru. Tak kalah serius adalah penyakit ganggren yang berujung amputasi.Ganggren merupakan penyakit akibat pembusukan jaringan karena sumbatan aliran darah. Indikasi telah terjadi ganggren, seringkali di ujung-ujung jari menjadi hitam arang. Kulitnya bisa mencair dan mengelupas. Jika sakitnya sudah berlanjut, langkah medis yang harus diambil adalah amputasi. Mengerikan!Para dokter mengingatkan kalau masalah-masalah kesehatan yang serius itu menyebar melalui air yang kotor. Demikian dilaporkan AP, Kamis (6/1/2005).Badan Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pentingnya kebutuhan dasar akan air bersih untuk mendapatkan air minum yang aman. Sebab pada air yang kotor dipastikan muncul risiko mewabahnya penyakit infeksi. Dampaknya, bisa-bisa jumlah korban meninggal tsunami menjadi dua kali lipat. Tsunami itu sendiri telah menewaskan 150 ribu orang.Aceh merupakan wilayah yang paling buruk terkena dampak tsunami. Ditambah lagi dengan bergelimpangannya mayat yang sudah membusuk selama berhari-hari karena belum bisa ditangani.Gelombang pasien pertama yang ditangani di rumah sakit di Aceh kebanyakan menderita luka goresan, memar dan patah tulang. Kini, para dokter mengaku pihaknya menangani masalah yang lebih serius."Infeksi yang berbahaya mulai merasuki luka-luka yang sebenarnya tidak terlalu dalam. Infeksi itulah yang memicu terjadinya ganggren yang bisa berujung pada amputasi," kata Dr Ronald Waldman, Koordinator WHO di Indonesia.Selain infeksi tersebut, lanjut dia, radang paru-paru juga mencuat sebagai penyakit yang signifikan. Sementara kasus diare pada anak-anak masih rendah. Karenanya diperkirakan tidak akan memicu wabah kolera atau penyakit lainnya."Lima juta orang telah terpengaruh oleh tsunami. Kami mengestimasi sekitar 150 ribu orang berisiko tinggi terkena wabah penyakit serius," imbuh Direktur Jenderal WHO Dr Lee Jong-wook.Hingga kini di Aceh, para relawan masih memunguti mayat-mayat yang sudah membusuk dan membawanya ke truk-truk. Mayat-mayat itu kemudian dikubur massal tanpa diidentifikasi maupun dihitung. Para relawan itu mengenakan masker untuk melawan bau busuk yang menusuk. (sss/)


Berita Terkait