"Rakyat akan kehilangan haknya memilih pemimpinnya, kehilangan figur-figur yang bagus," kata Nurdin yang ditemui detikcom di kediamannya, Bantaeng, Selasa (9/9/2014).
"Kita di Indonesia bukan kekurangan figur. Kita kelebihan figur, cuma tidak muncul karena tidak ada wadahnya," imbuhnya Nurdin.
Menurut bupati yang juga Guru Besar Ilmu Kehutanan Universitas Hasanuddin ini, pilkada langsung yang baru diterapkan satu dekade ini, seharusnya tidak perlu diubah, melainkan mekanisme rekrutmennya yang perlu diperbaiki.
"Ada banyak pilkada yang menghasilkan pemimpin-pemimpin bagus. Di pilkada langsung kan bukan pemilihan partai tapi pemilihan figur. Kalau ada yang menyebut cost politiknya tinggi, itu tergantung figurnya. Kalau kapabilitas tidak jelas, integritas rendah pasti mahal," pungkas Nurdin.
Nurdin adalah salah satu bupati yang berhasil membangun daerah. Pada pilkada 2008 silam, Nurdin yang berpasangan dengan Andi Asli Mustajab meraih suara 46 persen dukungan warga Bantaeng, kemudian pada periode kedua, tahun 2013 Nurdin yang berpasangan dengan Muhammad Yasin meraih suara 83 persen.
(mna/try)











































