Aparat Berseragam Palak Relawan Untuk Aceh
Kamis, 06 Jan 2005 16:29 WIB
Jakarta - Komite Relawan Independen (KRI) mengaku mengalami pemalakan yang dilakukan aparat berseragam saat akan masuk Tapak Tuan, Aceh Selatan. Untuk bisa masuk wilayah itu harus membayar Rp 40-50 ribu per orang."Saya belum bisa memastikan kalau itu adalah TNI. Tapi yang jelas mereka aparat berseragam yang jumlahnya berkelompok di setiap pos," kata KOordinator KRI, Pilian Panataran, dalam jumpa pers di Cafe O'Spot, Jl. Buncit Raya, Jakarta, Kamis (6/1/2005). Pilian menuturkan, KRI mengirim 112 orang relawan ke Aceh. Mereka diberangkatkan dari Jakarta 29 Desember 2004 lalu dan tiba di Aceh 30 Desember 2004. Namun mereka tidak bisa masuk Banda Aceh karena terhadang aparat berseragam TNI di Tapak Tuan, Aceh Selatan. Aparat berseragam itu melakukan tawar menawar besarnya pungutan untuk semua orang yang mau masuk. Setelah negosiasi, akhirnya hanya 14 relawan KRI yang bisa masuk Tapak Tuan. Sedangkan sisanya 98 orang kembali dipulangkan ke Jakarta. "Relawan yang bergelombang datang dipungut biaya Rp 40-50 ribu per orang oleh aparat berseragam. Warga Thionghoa malah sering jadi korban," kata Pilian.Selain pemalakan, aparat berseragam itu juga menahan bantuan yang akan dikirim ke Aceh. Aparat itu menahan bantuan dengan alasan untuk mengamankannya dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM). "Itu sering dikeluhkan relawan maupun sopir yang mengangkut bantuan ke Aceh," kata Pilian.KRI juga mencatat adanya pemeriksaan KTP terhadap pengungsi di sejumlah kamp pengungsian. Pemeriksaan yang disebut pemeriksaan KTP Merah Putih itu menanyai pengungsi apakah anggota GAM atau bukan. Jika diketahui anggota GAM, pengungsi itu tidak boleh menerima bantuan.
(iy/)











































