Kasus yang menjerat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik diharapkan bisa menjadi pembelajaran untuk penyusunan kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla. Pekan lalu, Jero yang juga politisi Partai Demokrat itu ditetapkan sebagai tersangka kasus pemerasan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.
Pengamat politik dari Universitas Indonesia Andrinof Chaniago mengusulkan agar posisi menteri di 'lahan basah' diisi dari kalangan profesional bukan kader partai politik.
"Dari profesional untuk menutup berbagai celah. Kalau kementerian basah itu dari profesional untuk mengoptimalkan kinerja dan fokus gunakan ilmunya," kata Andrianof.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan begitu, lanjut Andri, menteri ESDM berikutnya dapat mengambil keputusan yang tepat tanpa harus bolak-balik konsultasi dengan pengamat atau staf ahlinya. Sebab, ia sudah memiliki ilmu dasar dan tahu akar permasalahannya.
"Nggak perlu ngumpulin banyak ahli karena ilmunya sudah ada di kepalanya. Bisa jadi satu kepalanya mewakili 5 ahli yang dikumpulinnya itu," lanjut pria yang juga menjabat sebagai direktur eksekutif Citus Surveyors Group itu.
Sebelumnya ditemui secara terpisah, Pengamat Migas Kurtubi juga menganggap ke depannya posisi menteri sebaiknya ditempati kalangan profesional.
"Kelihatannya latar belakang profesionalnya (Jero) kurang begitu tepat di ESDM. Padahal di ESDM butuh pengetahuan dan keahlian di bidang pertambangan, perminyakan dan pelistrikan," ujarnya di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Jend Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (8/9/2014) siang.
"Itu seyogyanya menteri itu menguasai masalah sehingga tidak banyak waktu belajar dan tidak dikerjai bawahan. Jadi biar ke depan mestinya berkeahlian profesionalisme bisa dari non partai atau partai," kata Kurtubi.
(aws/erd)











































