Pasangan yang tengah terlibat kasus jaringan narkotika internasional, AKBP Idha Endri Prastiono dan Titi Yusfianti, ternyata memiliki sifat yang bertolak belakang. Jika Idha disebut baik dan sopan, Titi disebut galak.
AKBP Idha yang ditangkap di Kuching, Malaysia, mengontrak rumah bersama istrinya di Jl. Lubuk Kasih, RT 01/05, Perumahan Jatiwaringin Asri 2, Bekasi. Pemilik rumah kontrakan, Ros yang tinggal bersebelahan dengan Idha dan Titi ini punya pandangan berbeda mengenai pasangan suami istri itu.
"Kalau Pras itu baik anaknya. Sopan sama mami sering nyapa. Kalau istrinya galak. Mami pernah dikasari ditelepon nggak boleh masuk rumah itu," ungkap Ros kepada detikcom di rumahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya nggak tahu apa-apa. Yang saya tahu pekerjaannya polisi, ada di identitas dan surat perjanjian sewa. S2 katanya. Sepertinya kaya. Punya mobil 3 pernah diparkir di garasi dan jalan. Ada yang Honda Accord, ada juga yang Jeep bilang ke saya harganya Rp 2 miliar. Baju-bajunya juga kelihatan mewah," cerita Ros.
Ketua RT 01 Ahmadi saat ditemui di lingkungan rumahnya juga menyatakan hal yang sama. Ia berpikir AKBP Idha merupakan perwira yang hidupnya berkecukupan.
"Saya pertama juga bertanya-tanya, ngapain kalau kerja di Medan ngontrak di sini Rp 60 juta untuk 2 tahun. Dalam hati saya, oh ini polisi kaya. Orang rumahnya ditempatinnya juga jarang, kan sayang," tutur Ahmadi.
AKBP Idha ditangkap Polisisi Diraja Malaysia di Kuching pada 29 Agustus lalu bersama Bripka MP Harahap. Keduanya merupakan anggota Polda Kalimantan Barat. Istri AKBP Idha, Titi, disebut BNN juga masuk dalam lingkaran sindikat narkotika internasional dan hingga kini keberadaannya masih belum diketahui ada di mana. Kapolri Jenderal Sutarman menyebut AKBP Idha adalah troublemaker.
(ear/nrl)











































