Deny yang lulus perhotelan LP3I memulai karier sebagai chef sejak tahun 2001. Dia sudah melalangbuana sampai ke Miami, Amerika Serikat, Kuwait, Bahrain, dan kini menjadi Master Chef di dapur raksasa milik perusahaan katering Al Ahmadi.
Al Ahmadi adalah salah satu katering terbesar di Madinah. Perusahaan ini mampu mengemas 5.000 pak masakan dalam sehari. Al Ahmadi adalah satu dari 10 perusahaan katering yang menyediakan makanan untuk jamaah haji Indonesia. Deny bertugas menjadi kepala koki di dapur seluas hampir setengah lapangan bola itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bisa memasak untuk jamaah haji itu spesial buat saya karena saya bisa melayani untuk jamaah haji. Tentu saja ini pekerjaan yang mulia," kata pria berjenggot ini saat diwawancara di tengah sidak tim pengawas katering Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Madinah, Sabtu (6/9/2014).
Menjadi Master Chef di Tanah Suci, Deny tak lagi memandang penghasilan. Bisa dibilang penghasilannya di sini jauh lebih kecil dibanding menjadi koki di perusahaan sebelumnya di Miami.
"Kalau dibilang penghasilan dari gaji saya sebelumnya lebih kecil. Tapi saya bisa haji, umroh, dan melayani jamaah yang menurut saya sungguh luar biasa," kata Deny yang mengenakan baju chef warna oranye itu sembari tersenyum.
Deny punya dua orang anak dari seorang istri. Keluarganya semuanya tinggal di Binjai. Deny tak tahu kapan bisa pulang karena pekerjaannya semakin sibuk menjelang puncak haji.
Di perusahaan Al Ahmadi, Deny punya 200 anak buah yang mayoritas adalah koki asal Indonesia. Deny bertugas mengatur semua aktivitas di dapur raksasa tersebut.
"Kami melayani jamaah haji Indonesia dengan ikhlas," katanya sambil memberikan sarung tangan kepada tim pengawas katering untuk mencicipi ayam goreng yang digoreng anak buahnya.
"Silakan dicicipi ini kentucky Betawi," kata salah seorang chef, Marzuki, sembari tertawa.
(van/nik)











































