PBB Prioritaskan Pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami
Kamis, 06 Jan 2005 11:27 WIB
Jakarta - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan menyatakan setuju dengan gagasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membangun sebuah sistem peringatan dini (early warning system) di Samudera Hindia guna mengurangi jumlah korban apabila terjadi gelombang tsunami. PBB, menurut Kofi Annan, akan menjadikan program ini sebagai prioritas utama. "Kita akan menjadikan hal itu sebagai prioritas utama. PBB akan mendukung pekerjaan ini dan siap memberikan kontribusi untuk terciptanya suatu sistem peringatan dini ini."Hal ini disampaikan Kofi Annan dalam pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Para Pemimpin ASEAN Pascagempa Bumi dan Tsunami (Special ASEAN Leaders Meeting on Aftermath of Earthquakes and Tsunamis) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis (6/1/2005).Kofi Annan juga menjelaskan dalam periode enam bulan ke depan usai bencana gempa dan tsunami dibutuhkan dana sebesar US$ 977 juta untuk menangani lima juta korban selamat. Dana tersebut sebagai tambahan dari US$ 59 juta yang sudah dibutuhkan Palang Merah Internasional.Dijelaskan, untuk kebutuhan makanan dan agrikultur sekitar lima juta orang korban selamat dalam bencana gempa dan tsunami diperluka US$ 229 juta, kemudian US$ 122 juta untuk penanganan kesehatan, dan US$ 61 juta untuk air dan sanitasi. "Selain itu kita juga membutuhkan US$ 222 juta untuk penampungan pengungsi dan kebutuhan lainnya di luar makanan, serta US$ 110 juta untuk restorasi kemanusiaan," kata Kofi Annan.Annan juga menegaskan untuk menangani bencana terbesar sepanjang keberadaan PBB ini dibutuhkan kerja sama seluruh pihak baik dari negara korban maupun komunitas internasional. Sebab banyak yang menderita trauma yang terbayangkan dan luka psikologis yang butuh waktu lama untuk sembuh."Untuk itu kita harus bersama-sama merawat para korban, mencegah penderitaan lebih lanjut dan bertambahnya korban jiwa. Dan untuk jangka panjangnya kita harus berusaha mencegah bencana tsunami berikutnya yang sangat luar biasa memakan korban jiwa ini," jelasnya.Lebih lanjut Annan menyatakan meski akibat bencana ini timbul suatu masa kegelapan, tapi ada juga titik terang yang didapat. "Kta bisa melihat seluruh dunia bersatu, seluruh perbedaan-perbedaan yang ada menyatukan kita," katanya.Lalu disambungnya, "Kita juga melihat kesempatan untuk mengobati luka lama dan konflik yang sudah berlangsung lama. Semoga hal ini bisa berlangsung selamanya. Bersama kita kuat dan bersama kita yakin bisa membangun dan memperbaiki kerusakan dan penderitaan yang terjadi."
(gtp/)











































