Australia Biarkan RI Putuskan Sendiri Distribusi Bantuan LN
Rabu, 05 Jan 2005 13:29 WIB
Jakarta - Pemerintah Australia menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah Indonesia untuk memutuskan cara pendistribusian bantuan internasional untuk korban gempa dan tsunami di Aceh dan Sumut.Sejauh ini pemerintah Australia sudah memberikan bantuan sebesar 60 juta dolar Australia. Hal ini disampaikan Menlu Australia Alexander Downer kepada wartawan dalam jumpa pers di Hotel Mulia, Jl. Asia Afrika, Senayan, Jakarta, Rabu, (5/1/2005)."Saat ini memang banyak badan PBB yang handal dalam melakukan pendistribusian bantuan, tapi pada akhirnya tergantung kepada pemerintah Indonesia untuk apa sumbangan-sumbangan itu nantinya digunakan. Pemerintah Indonesia yang akan memutuskannya," kata Downer.Menurut Downer, saat ini selain sumbangan berupa uang tunai, Australia juga telah mengirimkan sebanyak empat pesawat Hercules yang mengambil rute Jakarta-Medan-Banda Aceh untuk mengirimkan bantuannya.Selain itu, di Aceh sendiri sudah ada sebanyak tiga helikopter dari pemerintah Australia ditambah sejumlah relawan dari negeri kanguru tersebut."Kita siap menginstruksikan kepada relawan, polisi dan militer Australia untuk menanggulangi bencana Aceh pasca gempa. Selan itu kami juga mengirimkan peralatan-peralatan dan dana berupa uang, karena Australia merupakan negara sukses dan kaya. Kami mampu memberikan bantuan," kata Downer.Selain itu, Downer juga mengatakan, dalam KTT Tsunami yang akan digelar Kamis, besok, dia akan menyampaikan pernyataannya dan bantuan yang disumbangkan Australia untuk RI. Meski begitu dia menganggap RI sudah pasti bertanggung jawabn untuk menangani musibah di Aceh."Selain itu juga akan dibicarakan mengenai koordinasi antara semua pihak untuk menyatukan pemikiran semua pihak dalam menangani krisis di Aceh. Kita akan fokus bagaimana menolong para korban bencana. Selaim itu juga akan dibahas mengenai penghapusan utang RI dalam rangka membantu penyelesaian krisis tapi itu masih sebatas wacana," ungkap dia.Ketika ditanya mengenai isu perdagangan anak yang marak dilakukan pasca gempa di negara-negara yang menjadi korban, khususnya Thailand dan Indonesia, dia mengaku belum mendengar kabar tersebut."Terlalu dini untuk membahas hal itu tapi kita menyerahkan kepada pihak berwenang di Indonesia untuk menanganinya," tegas dia.
(umi/)











































