"Israel dan Palestina sudah berperang selama beberapa dekade, tapi agresi kali ini tampak berbeda karena masyarakat men-tweet secara langsung apa yang mereka rasakan," ujar presenter Al Jazeera English, Femi Oke dalam acara Global Media Forum di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Selasa (26/8/2014).
Oke yang pernah bekerja di CNN ini hadir sebagai salah satu pembicara dalam GMF yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo bekerjasama dengan Unesco. GMF bertujuan untuk mencapai suatu kesepakatan akan peranan media dalam mendukung agenda pembangunan PBB pasca 2015.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan karena tweet tersebut, Ban Ki Moon (Sekjen PBB) sampai marah. Dia bilang, 'dia hanya seorang anak yang tertidur di atas tempat tidurnya dan kalian akan membunuhnya," ujar Oke.
Menurut Oke, media sosial mampu membuka arus informasi seluas-luasnya, menjadi pengimbang, dari media massa. Namun media sosial ini, kata Oke, juga memiliki imbas negatif yang cukup kentara.
Tanpa adanya verifikasi jurnalistik, informasi di dalam media sosial, memiliki tingkat akurasi yang relatif rendah, terutama untuk informasi yang tidak disertai bukti semacam foto.
"Kita tidak pernah tahu itu nyata atau tidak, atau apakah informasinya akurat. Mereka boleh jadi hanya anak kecil yang memposting sesuatu atau bahkan oknum yang menggunakan akun palsu," ujar Oke.
Mengenai gambar-gambar yang diunggah di media sosial itu, juga menjadi persoalan tersendiri karena tidak ada proses penyaringan. Dalam konflik Gaza, Oke pernah mendapatkan foto-foto berdarah yang cukup vulgar.
"Saya melihat gambar-gambar yang mengandung unsur kekerasan dan tidak diperingatkan sebelumnya. Saya tidak seringkali tidak siap. Mereka harusnya mencantumkan peringatan mengenai gambar itu," ujar lulusan Birmingham University ini.
"Kita harus menjadi penilai yang independen. Tidak semua hal yang kita lihat dan dengar dari media sosial adalah akurat," ujar Oke.
Lalu bagaimana solusinya? "Kita harus menjadi penilai yang baik dan jangan bersikap naif, dan kita akan terus belajar untuk melakukannya dengan baik," ujar Oke.
"Itulah dua sisi dari media sosial yang bisa digunakan untuk hal-hal positif namun dapat pula digunakan untuk menyebarkan sesuatu yang bersifat rasial dan diskriminatif. Tapi beberapa informasi benar-benar berguna. Kita hanya perlu cukup pintar untuk menyaring informasi tersebut dan tidak boleh malas untuk mengecek kebenarannya," sambungnya.
Melihat 2 Sisi Media Sosial dari Konflik Berdarah di Gaza
Media sosial diyakini memiliki peranan signifikan dalam penyebaran informasi yang sifatnya positif. Namun media sosial juga mempunyai imbas negatif jika tak hati-hati menggunakannya. Hal ini juga terjadi dalam situasi perang.
"Israel dan Palestina sudah berperang selama beberapa dekade, tapi agresi kali ini tampak berbeda karena masyarakat men-tweet secara langsung apa yang mereka rasakan," ujar presenter Al Jazeera English, Femi Oke dalam acara Global Media Forum di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Selasa (26/8/2014).
Oke yang pernah bekerja di CNN ini hadir sebagai salah satu pembicara dalam GMF yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo bekerjasama dengan Unesco. GMF bertujuan untuk mencapai suatu kesepakatan akan peranan media dalam mendukung agenda pembangunan PBB pasca 2015.
Dalam konflik berdarah antara Palestina dan Israel, seperti yang dicontohkan Oke, kicauan dari seorang anak bisa berimbas pada kebijakan pemangku jabatan di tingkat internasional. Oke mengkisahkan ada seorang anak yang berada di salah satu rumah yang ada di Gaza, di tengah-tengah gempuran udara Israel, nge-tweet mengenai apakah dia masih bisa hidup di kemudian hari.
"Bahkan karena tweet tersebut, Ban Ki Moon (Sekjen PBB) sampai marah. Dia bilang, 'dia hanya seorang anak yang tertidur di atas tempat tidurnya dan kalian akan membunuhnya," ujar Oke.
Menurut Oke, media sosial mampu membuka arus informasi seluas-luasnya, menjadi pengimbang, dari media massa. Namun media sosial ini, kata Oke, juga memiliki imbas negatif yang cukup kentara.
Tanpa adanya verifikasi jurnalistik, informasi di dalam media sosial, memiliki tingkat akurasi yang relatif rendah, terutama untuk informasi yang tidak disertai bukti semacam foto.
"Kita tidak pernah tahu itu nyata atau tidak, atau apakah informasinya akurat. Mereka boleh jadi hanya anak kecil yang memposting sesuatu atau bahkan oknum yang menggunakan akun palsu," ujar Oke.
Mengenai gambar-gambar yang diunggah di media sosial itu, juga menjadi persoalan tersendiri karena tidak ada proses penyaringan. Dalam konflik Gaza, Oke pernah mendapatkan foto-foto berdarah yang cukup vulgar.
"Saya melihat gambar-gambar yang mengandung unsur kekerasan dan tidak diperingatkan sebelumnya. Saya tidak seringkali tidak siap. Mereka harusnya mencantumkan peringatan mengenai gambar itu," ujar lulusan Birmingham University ini.
"Kita harus menjadi penilai yang independen. Tidak semua hal yang kita lihat dan dengar dari media sosial adalah akurat," ujar Oke.
Lalu bagaimana solusinya? "Kita harus menjadi penilai yang baik dan jangan bersikap naif, dan kita akan terus belajar untuk melakukannya dengan baik," ujar Oke.
"Itulah dua sisi dari media sosial yang bisa digunakan untuk hal-hal positif namun dapat pula digunakan untuk menyebarkan sesuatu yang bersifat rasial dan diskriminatif. Tapi beberapa informasi benar-benar berguna. Kita hanya perlu cukup pintar untuk menyaring informasi tersebut dan tidak boleh malas untuk mengecek kebenarannya," sambungnya.
(fjp/jor)










































