Alasannya, kiai sepuh yang ada di Dewan Syuro PKB merasa kecewa dengan kepemimpinan Muhaimin. Kekecewaan para kiai itu disampaikan ke Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.
"Mereka (para kiai di PKB) sambatan, karena tidak pernah diundang atau diajak rapat oleh petinggi PKB dalam mengambil kebijakan," kata Rois Syuriah PWNU Jatim KH Miftakhul Achyar, Selasa (26/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PKB itu kan dilahirkan dari NU dan menjadikan warga nahdliyin sebagai basisnya. Ibaratnya, PKB itu mencari makan di NU, tapi nyatanya PKB melenceng dan tidak sejalan dengan NU," tegasnya.
Pengasuh Ponpes Miftahus Sunnah ini menilai, popularitas PKB maupun suara yang mendongkrak petinggi PKB juga tak lepas dari peran kiai. Sayangnya, para kiai di Dewan Syuro PKB hanya ditempel dispanduk-spanduk untuk meraup suara nahdliyin.
"Ini yang tidak betul sehigga perlu diluruskan," terangnya.
Kiai kharismatik asal Surabaya ini berharap, PKB sejalan dengan kiai NU, sehingga bisa efektif sebagai alat perjuangan NU. Berdasarkan eputusan kemitraan strategis antara NU dan PKB oleh PBNU dan PWNU se-Indonesia di Jakarta pada 13 Januari 2002. Anggaran Dasar PKB merujuk
pada AD NU. Visi PKB juga visi NU.
"Di NU, syuriah adalah pengontrol, pengendali dan pengarah. Oleh karena itu, PKB tidak boleh beda dengan NU terkait hal-hal pokok. NU harus tetap dijunjung tinggi sebagai mainstream," tandasnya.
Muktamar PKB akan digelar di Surabaya pada tanggal 31 Agustus hingga 1 September 2014 mendatang. Akan hadir 5 ribu peserta dari 510 cabang PKB di Indonesia dan luar negeri. Forum itu akan membahas perubahan AD/ART dan penguatan partai.
(roi/try)











































