"Itu perlu proses. Perubahan itu tidak bisa 100 persen, justru aneh kalau bisa langsung 100 persen," ujar staf khusus Mendikbud Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan, Agnes Tuti Rumiati dalam diskusi 'Mengawal Implementasi Kurikulum 2013' di Bumbu Desa, Jl. Cikini Raya, Jakpus, Selasa (26/8/2014).
Tuti mengakui perubahan kurikulum memang ada kendala. Namun perubahan ini, disebut Tuti, seperti kultural yang perlu waktu untuk dapat diterima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihaknya juga mengaku telah melakukan monitoring dengan melakukan sensus pada tahun 2013. Evaluasi yang didapat Kemendikbud pada kurun waktu tersebut menyatakan kurikulum 2013 diyakini mampu mempengaruhi guru untuk lebih memperhatikan murid satu per satu.
"Memang ada yang mengalami kesulitan-kesulitan tapi para guru bilang kami berusaha," Tuti menceritakan pengalamannya melakukan sensus.
Ada beberapa hasil pemantauan implementasi kurikulum 2013 oleh Kemendikbud. Siswa dinilai menjadi lebih aktif, tidak bosan, aktif bertanya/berpendapat, termotivasi observasi, dan produktif. Sementara guru dianggap menjadi lebih semangat meningkatkan kualitas, lebih memperhatikan siswa, lebih obyektif, lebih semangat menambah pengetahuan.
Kurikulum 2013 juga dinilai meningkatkan kompetensi guru, menjadikan guru membuat siswa lebih aktif dan kreatif. Selain itu juga dapat membuat kepala sekolah lebih meningkatkan kualitas belajar.
Meski evaluasi yang diungkapkan pihak Kemendikbud relatif apik, buku-buku pelajaran yang dipesan dari pihak penerbit yang bekerja sama dengan pemerintah belum seluruhnya sampai ke sekolah-sekolah. Ini dikatakan Tuti, penerbit masih melakukan pencetakan dan proses distribusi.
"Ada buku yang belum (sampai ke sekolah), tapi nggak hafal saya berapa persennya. Kalau kita tanya ke penyedia buku informasi jumlah yang sudah terkirim berapa nggak update karena nggak sempet entry. Dia bilangnya sekarang fokus pada pencetakan dan pengiriman dulu," tutup Tuti.
(ear/mok)











































