Ini Kisah Tony Soemarno, Saksi Hidup Korban Bom JW Marriott I

Ini Kisah Tony Soemarno, Saksi Hidup Korban Bom JW Marriott I

- detikNews
Senin, 25 Agu 2014 00:50 WIB
Ini Kisah Tony Soemarno, Saksi Hidup Korban Bom JW Marriott I
Foto: Rini Friastuti/detikcom
Jakarta - Aksi terorisme yang terjadi di Indonesia selalu memberikan dampak negatif bagi semua pihak. Tak hanya memberikan kerugian psikologis kepada masyarakat, namun juga kerugian fisik.

Apalagi dengan munculnya kelompok radikal ISIS baru-baru ini yang juga memberikan efek kegelisahan dan trauma kepada publik.

Salah satu korban yang menjadi saksi hidup aksi terorisme, Tony Soemarno menceritakan kisah kelamnya. Saat bom terjadi mengguncang Hotel JW Marriott Jakarta pada 5 Agustus 2003, pria 56 tahun ini ikut menjadi korban.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Siang itu sekitar pukul 12.45 WIB, saya bermaksud untuk bertemu beberapa orang klien di cofee shop Syailendra yang berada di hotel. Pada siang itu, kondisi hotel sedang ramai dengan aktivitas orang-orang yang sedang istirahat makan siang," ujar Tony dalam Pelatihan Peningkatan Profesionalisme Pemberitaan Penanggulangan Terorisme di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (24/8/2014),

Di tengah kemacetan kota Jakarta saat itu, Tony datang tepat waktu ke hotel tersebut, lantaran tak ingin kehilangan klien dan meja yang telah dipesan.
Pertemuan yang seharusnya memberikan rasa gembira, seketika berubah menjadi horor setelah sebuah ledakan dengan tenaga besar menghantam hotel dan melukai orang-orang di dalamnya.

"Baru saja saya mempersilakan klien saya duduk, tiba-tiba dari arah kanan, saya melihat sebuah bola cahaya yang sangat besar dengan rasa panas yang luar biasa," cerita Tony.

"Saya melihat flame (kobaran api) begitu besar datang ke saya, secara refleks saya berusaha menutupi muka dengan tangan, dan saya terpental beberapa meter ke belakang," kata dia sambil memperlihatkan kondisi lengan serta jari tangan kanannya yang masih menyisakan luka bakar.

Pada saat itu, lanjut Tony, kondisi hotel yang semula tenang mendadak menjadi tegang dengan teriakan kesakitan, tangisan histeris dan orang-orang yang berhamburan kesana kemari karena panik yang luar biasa.

Tony yang saat itu berada di lantai dasar tak hanya menderita luka bakar, namun juga harus merelakan kepalanya dijahit sebanyak 17 jahitan karena tertimpa ceiling lamp (lampu gantung) hotel yang besar.

"Saya yang sudah tak sadarkan diri awalnya dibawa ke RS Jakarta, namun 4 hari kemudian langsung dirujuk ke RS Pusat Pertamina. Selain harus mengalami 17 jahitan di kepala, tangan kanan dan punggung saya menderita luka bakar tingkat 2 dengan kondisi yang terbakar sebanyak 40 persen," kenangnya.

Saat pemulihan kondisi, Tony mengaku sangat tersiksa. Kondisi perawatan di ruang isolasi kerap menimbulkan niat dari dalam diri Tony untuk bunuh diri saja. "Bayangkan, saya yang setiap hari bekerja di lapangan dengan mobilitas tinggi, tiba-tiba harus menjalani perawatan selama 8 bulan, sebelum saya benar benar pulih. Sering dari dalam hati untuk mengakhiri hidup," ungkapnya.

Sudah 11 tahun berlalu sejak kejadian itu, dan saat ini Tony telah pensiun dari pekerjaannya. Karena kepeduliannya dengan korban serta anggota keluarga korban ledakan bom, pada 2009 lalu dirinya beserta rekan lainnya membentuk ASKOBI (Asosiasi Korban Bom Teroris Indonesia).

Anggotanya merupakan korban ledakan bom, serta kerabat korban yang telah meninggal dunia.

"Saat ini anggotanya sebanyak 690 orang, 80 persen anggotanya adalah warga negara Indonesia, sementara sisanya adalah warga negara asing. Mereka berkumpul di ASKOBI untuk saling menguatkan, saling memberikan dukungan mental dan moral bagi mereka yang ditinggalkan anggota keluarga, sekaligus membantu memulihkan trauma akibat hal-hal yang menimpa korban yang masih hidup," kata pria berkepala plontos tersebut.

"Baru-baru ini beredar kabar mengenai kelompok terorisme radikal. Walaupun mengkhawatirkan, namun saya akan selalu berdoa supaya anggota saya tidak bertambah," tutupnya.

(rni/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads