Istri Daryoto, Sri Latiningsih, mengatakan suaminya bekerja di pabrik di Taiwan sejak bulan Februari tahun 2013 lalu. Tidak ada tanda-tanda Daryoto mengeluhkan sakit, namun tiba-tiba ayah dua anak itu tidak bisa beraktivitas dan tubuhnya seperti lumpuh.
"Tadinya sehat, tidak tahu mendadak stroke. Tidak bisa bergerak, hanya matanya saja yang bergerak," kata Sri saat ditemui detikcom di ruang Unit Stroke Klas II RSUP Dr. Kariadi Semarang, Jumat (22/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri yang mendengar suaminya dalam kondisi kritis mencari cara agar bisa melihat kondisi suaminya. BP3TKI memfasilitasi Sri untuk terbang ke Taiwan. Setelah lima bulan, kesehatan Daryoto masih belum membaik hingga akhirnya diputuskan dibawa pulang ke Indonesia.
"Dibawa ke sini tanggal 3 Juli, langsung ke rumah sakit," ujar Sri dengan mata berkaca-kaca.
Meski sudah memanfaatkan BPJS, Sri khawatir suaminya dipulangkan karena menurutnya ada batas limit dari BPJS yang sudah habis. Keluarganya sudah tidak bisa membiayai. Sri hanya bisa pasrah karena dirinya tidak bekerja dan masih harus menanggung dua anaknya yang bersekolah di SMP dan SMA.
Mengetahui hal tersebut, anggota DPR RI Komisi IX, Imam Suroso mengatakan pihaknya mendesak pemerintah ikut membantu beban biaya keluarga Sri yang kurang mampu. Menurutnya jika dipaksa pulang, maka bisa saja kemungkinan terburuk terjadi.
"Komisi IX maupun Kementerian Kesehatan dan BPJS harus biayai. Kayak begini harus tanggung jawab. Orangnya miskin, kalau dibawa pulang sekarang bisa meninggal," ujar Suroso yang didampingi BP3TKI saat menjenguk Daryoto.
"Dia pahlawan devisa," tegasnya.
Pria yang akrab dipanggil Mbah Roso itu menambahkan pihaknya mengusahakan agar Daryoto bisa dirawat setidaknya dalam satu periode lagi atau 40 hari. Ia pun berharap pemerintah segera turun tangan untuk membantu Daryoto.
"Saya pengen satu periode lagi atau 40 hari. Ini harus dibiayai," ujarnya.
Hums RSUP Kariadi, Parna mengaku pihaknya sudah melakukan penanganan terbaik, sedangkan untuk masalah BPJS ia menyerahkan kepada pihak terkait.
"Jadi paketnya. Kalau paket habis dipulangkan bisa. Ini tanggung jawab BPJS," katanya.
Kini Sri sedikit bisa bernafas lega karena biaya perawatan suaminya untuk sekitar 40 hari kedepan sudah ada yang menanggung. Namun ia masih harus memikirkan biaya perawatan selanjutnya jika suaminya tak kunjung sembuh.
"Ya semoga Allah memberikan kesembuhan. Masih ada tanggungan dua anak," ujar Sri di samping suaminya yang masih tertidur.
(alg/try)










































